Harga Emas hari ini - Dolar Australia (AUD) diperdagangkan di sekitar US$0,691 pada Selasa (27 Januari 2026), mendekati level terkuat sejak awal 2023. Kenaikan ini banyak ditopang “daya tarik imbal hasil”, karena investor melihat Australia menawarkan return obligasi yang makin menarik dibanding beberapa negara lain.
Pendorong utamanya datang dari pasar obligasi. Yield obligasi pemerintah Australia tenor 3 tahun—yang biasanya paling sensitif terhadap arah suku bunga—naik dan disebut berada di level tertinggi sejak November 2023. Kombinasi reputasi peringkat kredit Australia yang kuat dan ekspektasi bank sentral yang cenderung “hawkish” membuat aset AUD terlihat lebih menarik bagi investor global.
Data tenaga kerja domestik ikut memperkuat narasi itu. Laporan terbaru menunjukkan tingkat pengangguran Desember turun ke 4,1%, terendah dalam tujuh bulan, sementara penambahan pekerjaan jauh melampaui perkiraan pasar. Angka ini membuat sebagian pelaku pasar menilai tekanan permintaan di ekonomi masih cukup kuat, sehingga peluang kebijakan moneter tetap ketat menjadi lebih besar.
Fokus berikutnya beralih ke data inflasi yang akan dirilis Rabu, 28 Januari 2026. Investor akan memantau CPI bulanan Desember dan terutama trimmed mean (rata-rata terpotong) kuartal IV, karena ukuran ini sering dipakai untuk membaca tekanan harga “inti” yang lebih bersih dari gejolak komponen ekstrem.
Pasar memperkirakan inflasi bulanan Desember bisa naik setelah sebelumnya cenderung stagnan, sementara trimmed mean kuartal IV diprediksi sedikit melambat. Kalau inflasi ternyata lebih panas dari perkiraan, ekspektasi “RBA lebih hawkish” bisa makin menguat—dan itu biasanya ikut menjaga AUD tetap kencang. Tapi bila inflasi mendingin lebih cepat, AUD berisiko kehilangan tenaga karena pasar mulai mengurangi taruhan kenaikan suku bunga. - Solid Gold
Sumber: Newsmaker.id