Rabu, 01 April 2026

PT Solid Gold | Damai Semu, Harga Tetap Panas!

PT Solid Gold | Damai Semu, Harga Tetap Panas!

Harga Emas hari ini – Sinyal de-eskalasi perang dari Donald Trump memberi napas pendek bagi pasar, tetapi belum cukup kuat untuk menghapus rasa takut investor. Laporan terbaru menyebut Trump bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran bahkan jika Selat Hormuz belum sepenuhnya dibuka, dan headline itu langsung dibaca pasar sebagai peluang meredanya eskalasi. Namun, pasar juga sadar bahwa ini baru sinyal politik, bukan penyelesaian nyata di lapangan. Selama jalur energi paling vital di dunia masih terganggu, de-eskalasi yang muncul lebih tepat disebut sebagai “cooling of tone” ketimbang perdamaian yang benar-benar solid.

Reaksi paling cepat terlihat di pasar minyak. Setelah sebelumnya melonjak tajam akibat premi perang dan kekhawatiran gangguan pasokan, harga oil sempat turun sekitar 1% di sesi Asia usai kabar Trump tersebut muncul. Reuters mencatat Brent turun ke sekitar US$111,56 per barel dan WTI ke kisaran US$101,90, menandakan bahwa sebagian pelaku pasar mulai melepas posisi defensif ketika peluang perang berkepanjangan terlihat sedikit mereda. Meski begitu, koreksi ini lebih mencerminkan pengurangan panic premium, bukan perubahan mendasar pada risiko pasokan global. Dengan kata lain, pasar minyak turun karena tensinya sedikit berkurang, bukan karena problem energinya sudah selesai.

Yang membuat oil tetap sensitif adalah fakta bahwa masalah utamanya masih belum terselesaikan: arus energi melalui Hormuz belum pulih normal. Jalur ini sangat krusial bagi perdagangan minyak global, dan pasar memahami bahwa tanpa pembukaan penuh Hormuz, pasokan tetap berisiko terganggu. Reuters juga melaporkan serangan terhadap kapal tanker di dekat Dubai serta pengalihan rute ekspor Saudi, yang menegaskan bahwa risiko logistik dan keamanan masih nyata. Karena itu, walaupun headline de-eskalasi menekan harga sementara, ruang penurunan oil masih terbatas selama gangguan fisik terhadap rantai suplai energi belum benar-benar hilang.

Di pasar mata uang, dampaknya ke dolar cenderung lebih kompleks. Secara intraday, DXY sempat melemah dari puncak tertinggi tahun ini dan bergerak di bawah 100,50 karena harapan de-eskalasi mengurangi sebagian permintaan safe haven. Tetapi pelemahan itu tidak agresif, sebab pasar masih menilai lonjakan harga energi berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi dan membuat Federal Reserve sulit cepat beralih dovish. Reuters mencatat dolar justru membukukan kenaikan bulanan sekitar 2,9% pada Maret, yang menjadi penguatan bulanan terbesarnya sejak Juli 2025. Jadi, untuk saat ini dolar tertahan antara dua kekuatan: kabar damai yang menekan permintaan aman, dan ancaman inflasi energi yang menopang ekspektasi suku bunga lebih tinggi lebih lama.

Emas bergerak dengan pola yang juga tidak sederhana. Secara teori, kabar de-eskalasi mestinya menekan emas karena kebutuhan hedging geopolitik berkurang. Namun realitas pasar menunjukkan emas justru masih mampu naik harian, dengan Reuters mencatat spot gold menguat sekitar 1,1% ke kisaran US$4.561,68 per ounce pada Selasa. Ini menunjukkan bahwa investor belum benar-benar keluar dari mode perlindungan. Ada dua alasan utama: pertama, konflik belum benar-benar selesai; kedua, pasar masih melihat risiko ekonomi global dari guncangan energi. Meski begitu, tekanan terhadap emas belum hilang, karena dolar yang kuat dan memudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed membuat kenaikan emas tidak lepas dan tetap rentan tertahan.

Di sinilah hubungan emas, oil, dan dolar menjadi sangat penting untuk dibaca secara bersamaan. Oil yang melonjak mendorong kekhawatiran inflasi global, inflasi yang lebih tinggi mengurangi peluang penurunan suku bunga, dan kondisi itu menopang dolar. Dolar yang kuat pada akhirnya menjadi beban bagi emas, meski emas tetap dicari sebagai aset lindung nilai saat konflik memanas. Artinya, emas sekarang tidak sedang bergerak dalam lingkungan safe haven yang “bersih”, melainkan dalam pasar yang terbelah antara kebutuhan perlindungan geopolitik dan tekanan moneter dari energi mahal. Karena itu, pergerakan emas belakangan cenderung choppy: naik karena risiko perang, tetapi tertahan karena pasar suku bunga kembali lebih hawkish.

Ke depan, pandangannya masih condong volatil. Untuk oil, selama Hormuz belum pulih penuh, harga masih berpotensi bertahan tinggi dan mudah melonjak lagi setiap kali muncul serangan baru, sehingga zona US$100+ untuk WTI dan kisaran di atas US$110 untuk Brent masih sangat masuk akal dalam jangka dekat. Untuk gold, peluang rebound tetap terbuka bila pasar kembali ragu pada proses damai atau jika konflik berubah menjadi krisis energi yang lebih panjang, tetapi kenaikannya kemungkinan tidak lurus karena dolar dan ekspektasi suku bunga masih menjadi penghambat utama. Dengan kata lain, outlook terdekatnya adalah oil tetap bias bullish secara struktural, sementara emas cenderung bullish-volatile: kuat saat ketegangan naik, namun rawan koreksi setiap kali pasar membaca headline damai sebagai langkah maju yang kredibel.

PT Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Selasa, 31 Maret 2026

Solid Gold | Emas Naik! Apa yang Mendorong Kenaikan Ini?

Solid Gold | Emas Naik! Apa yang Mendorong Kenaikan Ini?

Harga Emas hari ini – Harga emas pada sesi Asia hari ini mencatatkan lonjakan signifikan, diperdagangkan di kisaran $4537 per ounce. Kenaikan ini terutama dipicu oleh ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat, dengan ketegangan di Selat Hormuz dan kebijakan moneter yang dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar dolar AS. Situasi ini mendorong investor untuk beralih ke emas sebagai aset aman, menciptakan permintaan yang kuat di pasar

Namun, meskipun harga emas menunjukkan tren positif, tantangan tetap ada. Kebijakan moneter ketat di beberapa negara besar, seperti Amerika Serikat, dapat menekan permintaan terhadap logam mulia ini. Dengan ketegangan politik yang terus berkembang dan prospek ekonomi yang berubah-ubah, pasar emas tetap penuh ketidakpastian, membuat banyak pihak bertanya-tanya apakah harga ini akan bertahan atau justru berbalik arah.

Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Senin, 30 Maret 2026

PT Solid | Risk-Off Tekan Aussie di Awal Pekan


Harga Emas hari ini – AUD/USD melemah di awal pekan dan turun sekitar 0,3% ke area 0,6850 pada sesi Asia, setelah menembus level 0,6900. Pelemahan ini mencerminkan underperformance dolar Australia di tengah sentimen risk-off yang didorong kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah.

Tekanan pada aset berisiko terlihat dari turunnya futures S&P 500 sekitar 0,4%. Laporan Wall Street Journal yang menyebut AS mempertimbangkan penambahan hingga 10.000 pasukan untuk opsi operasi darat terhadap Iran, disertai peringatan keras dari Teheran, memperburuk kehati-hatian pasar dan menekan mata uang pro-siklus seperti AUD.

Dari sisi domestik, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengumumkan pemerintah akan memangkas cukai BBM (bensin dan diesel) menjadi 50% selama tiga bulan untuk meringankan beban rumah tangga di tengah kenaikan biaya energi akibat gangguan pasokan terkait perang.

Sementara itu, dolar AS cenderung stabil dengan DXY bertahan di atas 100, ditopang pergeseran ekspektasi suku bunga. Menurut CME FedWatch, pasar telah menyingkirkan proyeksi dua kali pemangkasan suku bunga yang sempat diperkirakan sebelum perang, dan kini melihat peluang 24,6% untuk setidaknya satu kali kenaikan suku bunga The Fed tahun ini faktor yang menjaga AUD/USD tetap rentan.

PT Solid

Sumber: Newsmaker.id

Selasa, 17 Maret 2026

Solid Gold | Emas Masih Terhalang Kenaikannya karena ini!

 

Harga Emas hari ini - Harga emas bergerak tipis setelah dolar AS melemah, sementara pelaku pasar menilai upaya meredam guncangan pasokan minyak yang muncul dari perang di Timur Tengah.

Pada perdagangan awal, emas batangan berada di sekitar US$5.000 per ounce, setelah turun 0,3% pada sesi sebelumnya. Pelemahan dolar memberi ruang penopang bagi emas karena membuat logam mulia relatif lebih murah bagi pembeli non-AS.

Di sisi lain, minyak kembali naik setelah jatuh pada Senin. Pasar menimbang rencana pelepasan cadangan darurat dan sinyal penambahan pasokan, berhadapan dengan meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur energi serta gangguan arus pengiriman melalui Selat Hormuz yang mendekati macet.

Ketegangan geopolitik yang berkepanjangan turut memunculkan risiko inflasi. Kondisi ini mengurangi peluang bank sentral AS untuk segera melonggarkan kebijakan, dan pelaku pasar kini menilai hampir tidak ada kemungkinan pemangkasan suku bunga pada pertemuan The Fed pekan ini.

Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menekan emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga. Namun, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai tetap bertahan di tengah ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran pasar terhadap independensi kebijakan moneter.

Spot gold tercatat nyaris tidak berubah di US$5.005,54 per ounce pada 07.05 waktu Singapura. Indeks dolar Bloomberg naik 0,1% setelah turun 0,6% pada Senin, sementara perak naik 0,1% ke US$80,90 dan platinum serta palladium ikut menguat. - Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Senin, 16 Maret 2026

PT Solid | Minyak Naik Usai Serangan ke Kharg Perbesar Risiko Pasokan

 

Harga Emas hari ini - Harga minyak dunia kembali menguat setelah serangan Amerika Serikat ke Pulau Kharg, pusat ekspor utama minyak Iran, memperbesar eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan ini dinilai meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global yang selama lebih dari dua pekan terakhir sudah terganggu akibat perang di kawasan tersebut.

Brent sempat naik hingga 3,3% dan diperdagangkan di sekitar US$105 per barel, setelah melonjak lebih dari 40% dalam dua minggu terakhir. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada dekat level US$100 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah Iran melancarkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah negara Arab, menyusul serangan AS ke fasilitas militer di Pulau Kharg.

Serangan terhadap Kharg memperluas cakupan konflik yang sebelumnya telah menekan arus distribusi minyak global. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut gangguan ini sebagai disrupsi pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak dunia. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur vital penghubung Teluk Persia ke pasar internasional, juga masih nyaris terhenti sejak konflik dimulai.

Meski laporan media Iran menyebut ekspor dari Kharg masih berjalan normal, pelaku pasar tetap melihat risiko pasokan semakin besar. Gangguan tambahan, sekecil apa pun, berpotensi membuat pasar minyak makin ketat. Kekhawatiran ini juga diperparah oleh terganggunya aktivitas ekspor di Fujairah, Uni Emirat Arab, akibat serangan drone pada akhir pekan, meski operasional kembali berjalan sehari setelahnya.

Untuk saat ini, pasar menilai lonjakan harga minyak lebih mencerminkan risiko gangguan pasokan daripada skenario krisis penuh. Namun, selama konflik terus berlanjut dan belum ada kejelasan soal gencatan senjata, premi geopolitik diperkirakan tetap bertahan tinggi. Artinya, minyak masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tetap kuat selama ancaman terhadap pasokan global belum benar-benar mereda. - PT Solid

Sumber: Newsmaker.id

Kamis, 12 Maret 2026

Solid Gold Berjangka | Tarik Menarik RBA dan Risiko Timur Tengah Tekan AUD/USD

 

Harga Emas hari ini - AUD/USD melemah tipis pada perdagangan Kamis sesi Asia, mengakhiri empat hari dan mundur dari puncak tertinggi sejak Juni 2022 di sekitar 0,7185. Meski sempat turun, pasangan ini memantulkan beberapa pip dari level terendah harian dan bergerak di kisaran 0,7100-an, turun sekitar 0,10%.

Tekanan utama datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong permintaan aset aman seperti Dolar AS. Laporan bahwa dua kapal tanker diserang di Teluk Persia bagian utara dekat Irak dan Kuwait membuat harga minyak melonjak lebih dari 6%, memicu kekhawatiran gangguan pasokan dan menurunkan minat terhadap aset berisiko.

Di sisi AS, data inflasi terbaru menunjukkan harga konsumen naik 0,2% secara bulanan pada bulan Februari dan inflasi tahunan bertahan di 3,1%. Angka ini memberi sinyal inflasi masih moderat, tetapi eskalasi konflik menimbulkan risiko inflasi baru melalui penambahan energi, yang ikut mengangkat imbal hasil obligasi AS dan memperkuat Dolar AS.

Namun, pelemahan Aussie tertahan oleh nada hawkish dari Reserve Bank of Australia (RBA). Deputi Gubernur RBA Andrew Hauser sebelumnya menilai harga minyak berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi dan menambah tekanan untuk menaikkan suku bunga, sehingga pasar mulai menggeser ekspektasi kenaikan suku bunga berikutnya lebih cepat.

Indikator domestik juga mendukung kebijakan prospek yang lebih ketat. Laporan Melbourne Institute menunjukkan ekspektasi inflasi konsumen Australia untuk Maret 2025 naik menjadi 5,2% pada Februari, level tertinggi sejak Juli 2023, sementara pasar juga sudah memperhitungkan total pengetatan sekitar 58 bps untuk tahun ini.

Dengan kombinasi Dolar AS yang diuntungkan oleh arus safe-haven dan Aussie yang ditopang spekulasi kenaikan suku bunga RBA, arah AUD/USD cenderung menahan tarik-menarik dua faktor ini. Pelaku pasar akan mencakup perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak, serta sinyal terbaru dari RBA untuk menentukan apakah koreksi berlanjut atau hanya jeda sementara. - Solid Gold Berjangka

Sumber: Newsmasker.id

Selasa, 10 Maret 2026

Solid Gold | Emas Stabil Usai Dolar AS Melemah, Pasar Cermati Sinyal Timur Tengah

 

Harga Emas hari ini - Harga emas relatif stabil setelah dolar AS melemah menyusul komentar Presiden AS Donald Trump bahwa perang di Timur Tengah mungkin akan segera berakhir. Emas batangan diperdagangkan di sekitar US$5.140 per ons pada perdagangan awal, setelah turun 0,6% pada sesi sebelumnya. Indeks dolar AS melemah hingga 0,1%, memperpanjang penurunan pada Senin, sementara harga minyak anjlok usai sesi yang sangat fluktuatif.

Setiap indikasi bahwa Washington bersedia mendorong de-eskalasi dapat mengurangi tekanan yang sempat membebani emas dalam beberapa hari terakhir. Sejak perang dimulai, serangan Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk Persia dan penutupan efektif Selat Hormuz untuk pelayaran mendorong reli harga minyak. Lonjakan energi itu memperkuat kekhawatiran inflasi dan pada gilirannya mengurangi ruang bagi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga.

Namun, kepemilikan emas tetap menghadapi tantangan karena pasar menyesuaikan ekspektasi suku bunga. Daniel Ghali, ahli strategi komoditas senior TD Securities, mengatakan pasar telah memperhitungkan perubahan prospek penurunan suku bunga, meski ada tanda sebagian pelaku “membeli saat harga turun” di pasar fisik over-the-counter. Ia menambahkan, volume pembelian tersebut masih terbatas dan berada pada skala yang dianggap normal.

Secara fundamental, biaya pinjaman yang lebih tinggi biasanya menjadi hambatan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil. Di saat yang sama, emas juga berperan sebagai sumber likuiditas ketika pasar ekuitas global tertekan selama konflik berlangsung. Meski perdagangan bergejolak dan momentum kenaikan tertahan, emas masih mencatat kenaikan hampir seperlima sepanjang tahun ini, ditopang ketidakpastian perdagangan dan geopolitik global serta isu independensi The Fed.

Pada pukul 07.06 waktu Singapura, spot gold sedikit berubah di US$5.139,67 per ons. Perak naik 0,3% ke US$87,25, sementara platinum dan paladium turun tipis. Indeks Spot Dolar Bloomberg sedikit melemah setelah turun 0,2% pada sesi sebelumnya. - Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id