Rabu, 08 April 2026

PT Solid Gold | Gencatan Senjata Dua Minggu Tekan DXY, FOMC Jadi Kunci

 

Harga Emas hari ini - Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia, melemah dan diperdagangkan di sekitar 99,05 pada sesi Asia, Rabu (8/04). Pelemahan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui gencatan senjata selama dua minggu, menyusul sebelumnya ancaman serangan besar-besaran.

Trump menyatakan pada Selasa malam bahwa ia setuju “menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama periode dua minggu” dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz. Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut jalur aman di jalur air utama itu akan memungkinkan selama dua minggu melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran.

Pasar menilai perkembangan ini berpotensi menurunkan permintaan dolar sebagai aset lindung nilai ketika risiko geopolitik mereda. Namun, pelaku pasar tetap mencermati implementasi gencatan senjata dan dinamika di Selat Hormuz, mengingat kawasan tersebut menjadi jalur strategis yang sensitif terhadap gangguan logistik dan energi.

AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Islamabad, Pakistan, pada Jumat untuk merampungkan rincian kesepakatan. Setiap sinyal de-eskalasi lebih lanjut dapat kembali menekan daya tarik dolar sebagai safe haven, sementara tanda-tanda ketegangan yang muncul lagi berisiko mengembalikan permintaan defensif pada aset berdenominasi USD.

Selain faktor geopolitik, fokus pasar beralih ke rilis risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu. Dokumen ini dipantau untuk membaca penilaian pejabat Federal Reserve terhadap guncangan energi terbaru terkait konflik di Timur Tengah, yang dapat memengaruhi ekspektasi inflasi serta arah suku bunga.

Nada yang lebih hawkish dari The Fed berpotensi memberi dukungan jangka dekat bagi dolar terhadap mata uang utama lain. Sementara itu, indikator pasar suku bunga menunjukkan overnight-indexed swaps memberi sinyal probabilitas sekitar 40% untuk penurunan suku bunga The Fed hingga akhir tahun, menurut CME FedWatch Tool—menjadikan isi risalah, perkembangan negosiasi di Islamabad, dan kondisi Selat Hormuz sebagai variabel utama yang akan dipantau pasar berikutnya. - PT Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Selasa, 07 April 2026

Solid Gold | Harga Minyak Naik Tipis setelah Trump Tegaskan Ancaman Serang Infrastruktur Iran

 

Harga Emas hari ini - Harga minyak menguat tipis pada Senin (6/3) setelah Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan ancamannya untuk menghancurkan infrastruktur sipil Iran jika Republik Islam itu tidak menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz. Pasar menilai retorika tersebut memperbesar risiko geopolitik dan memperpanjang ketidakpastian atas kelancaran arus energi di jalur pelayaran strategis itu.

Kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 0,78% dan ditutup di US$112,41 per barel. Sementara patokan global Brent menguat 0,68% dan menetap di US$109,77 per barel.

“Kita harus punya kesepakatan yang bisa saya terima, dan bagian dari kesepakatan itu adalah kami ingin lalu lintas bebas untuk minyak dan semua hal lainnya,” kata Trump kepada wartawan dalam konferensi pers pada Senin.

Trump kembali menekankan tuntutannya agar Iran membuka Selat Hormuz paling lambat Selasa pukul 20.00 waktu AS (ET). Ia mengatakan meyakini kepemimpinan Iran sedang bernegosiasi dengan itikad baik.

“Saya bisa katakan ada pihak yang aktif dan bersedia di sisi lain,” ujar Trump. “Mereka ingin bisa membuat kesepakatan. Saya tidak bisa mengatakan lebih banyak.”

Trump kemudian mengancam akan melumpuhkan setiap jembatan dan pembangkit listrik di Iran dalam waktu empat jam setelah tenggat Selasa jika tidak ada kesepakatan. “Mereka butuh 100 tahun untuk membangunnya kembali,” kata Trump. - Solid Gold

Sumber : Newsmaker.id

Kamis, 02 April 2026

Solid Gold Berjangka | Minyak Melonjak usai Trump Isyaratkan Eskalasi Serangan ke Iran

Solid Gold Berjangka | Minyak Melonjak usai Trump Isyaratkan Eskalasi Serangan ke Iran

Harga Emas hari ini – Harga minyak menguat tajam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan menghantam Iran “sangat keras” dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Pernyataan itu kembali memicu kekhawatiran pasar soal kelanjutan pasokan energi, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting pengiriman minyak global.

Brent melonjak menembus US$105 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik mendekati US$104 setelah Trump menyampaikan pidato prime-time yang jarang dilakukan. Dalam pernyataannya, Trump juga mengatakan negara-negara yang bergantung pada minyak lewat Hormuz seharusnya mengambil peran utama dalam melindungi pengiriman, dan mengklaim jalur itu akan terbuka “secara alami” setelah perang berakhir.

Konflik tersebut secara efektif membuat Selat Hormuz tertutup, menahan pasokan minyak mentah, gas, serta produk energi seperti solar ke pasar global. Situasi ini mendorong kenaikan harga energi dan memperbesar kekhawatiran krisis inflasi di sejumlah negara.

Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak sempat turun karena optimisme konflik bisa mereda. Namun, Brent masih lebih dari 40% lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang, sehingga pasar menilai guncangan pasokan belum selesai. Sejumlah analis menilai pidato Trump membuat pasar kembali memasukkan skenario kampanye militer yang lebih intens, sementara kepastian kapan konflik berakhir belum terlihat jelas.

Ketegangan soal Hormuz tetap menjadi isu paling krusial bagi pasar energi. Trump sebelumnya mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran jika jalur itu dibuka kembali, lalu meminta negara lain mengambil langkah untuk merebut kendali jalur tersebut. Uni Emirat Arab termasuk negara Teluk yang mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa memberi mandat penggunaan kekuatan untuk membuka kembali jalur itu.

Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan masa depan Selat Hormuz akan ditentukan Iran dan Oman. Iran juga menegaskan jalur itu tidak akan dibuka hanya karena “aksi” Presiden AS, menandakan posisi Teheran masih keras dan berpotensi memperluas wilayah pasokan.

Pasar juga menilai normalisasi arus pengiriman tidak akan cepat, bahkan jika perang berakhir dalam beberapa pekan. Kerusakan pada infrastruktur energi diperkirakan memerlukan waktu perbaikan, sementara akumulasi pasukan AS di kawasan menjaga eskalasi risiko tetap tinggi. Di tengah volatilitas, investor meningkatkan transaksi opsi untuk mengantisipasi berbagai skenario harga, sementara Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan beberapa negara dapat menghadapi penjatahan energi ketika guncangan pasokan semakin dalam bulan ini.

Solid Gold Berjangka

Sumber: Newsmaker.id

Rabu, 01 April 2026

PT Solid Gold | Damai Semu, Harga Tetap Panas!

PT Solid Gold | Damai Semu, Harga Tetap Panas!

Harga Emas hari ini – Sinyal de-eskalasi perang dari Donald Trump memberi napas pendek bagi pasar, tetapi belum cukup kuat untuk menghapus rasa takut investor. Laporan terbaru menyebut Trump bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran bahkan jika Selat Hormuz belum sepenuhnya dibuka, dan headline itu langsung dibaca pasar sebagai peluang meredanya eskalasi. Namun, pasar juga sadar bahwa ini baru sinyal politik, bukan penyelesaian nyata di lapangan. Selama jalur energi paling vital di dunia masih terganggu, de-eskalasi yang muncul lebih tepat disebut sebagai “cooling of tone” ketimbang perdamaian yang benar-benar solid.

Reaksi paling cepat terlihat di pasar minyak. Setelah sebelumnya melonjak tajam akibat premi perang dan kekhawatiran gangguan pasokan, harga oil sempat turun sekitar 1% di sesi Asia usai kabar Trump tersebut muncul. Reuters mencatat Brent turun ke sekitar US$111,56 per barel dan WTI ke kisaran US$101,90, menandakan bahwa sebagian pelaku pasar mulai melepas posisi defensif ketika peluang perang berkepanjangan terlihat sedikit mereda. Meski begitu, koreksi ini lebih mencerminkan pengurangan panic premium, bukan perubahan mendasar pada risiko pasokan global. Dengan kata lain, pasar minyak turun karena tensinya sedikit berkurang, bukan karena problem energinya sudah selesai.

Yang membuat oil tetap sensitif adalah fakta bahwa masalah utamanya masih belum terselesaikan: arus energi melalui Hormuz belum pulih normal. Jalur ini sangat krusial bagi perdagangan minyak global, dan pasar memahami bahwa tanpa pembukaan penuh Hormuz, pasokan tetap berisiko terganggu. Reuters juga melaporkan serangan terhadap kapal tanker di dekat Dubai serta pengalihan rute ekspor Saudi, yang menegaskan bahwa risiko logistik dan keamanan masih nyata. Karena itu, walaupun headline de-eskalasi menekan harga sementara, ruang penurunan oil masih terbatas selama gangguan fisik terhadap rantai suplai energi belum benar-benar hilang.

Di pasar mata uang, dampaknya ke dolar cenderung lebih kompleks. Secara intraday, DXY sempat melemah dari puncak tertinggi tahun ini dan bergerak di bawah 100,50 karena harapan de-eskalasi mengurangi sebagian permintaan safe haven. Tetapi pelemahan itu tidak agresif, sebab pasar masih menilai lonjakan harga energi berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi dan membuat Federal Reserve sulit cepat beralih dovish. Reuters mencatat dolar justru membukukan kenaikan bulanan sekitar 2,9% pada Maret, yang menjadi penguatan bulanan terbesarnya sejak Juli 2025. Jadi, untuk saat ini dolar tertahan antara dua kekuatan: kabar damai yang menekan permintaan aman, dan ancaman inflasi energi yang menopang ekspektasi suku bunga lebih tinggi lebih lama.

Emas bergerak dengan pola yang juga tidak sederhana. Secara teori, kabar de-eskalasi mestinya menekan emas karena kebutuhan hedging geopolitik berkurang. Namun realitas pasar menunjukkan emas justru masih mampu naik harian, dengan Reuters mencatat spot gold menguat sekitar 1,1% ke kisaran US$4.561,68 per ounce pada Selasa. Ini menunjukkan bahwa investor belum benar-benar keluar dari mode perlindungan. Ada dua alasan utama: pertama, konflik belum benar-benar selesai; kedua, pasar masih melihat risiko ekonomi global dari guncangan energi. Meski begitu, tekanan terhadap emas belum hilang, karena dolar yang kuat dan memudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed membuat kenaikan emas tidak lepas dan tetap rentan tertahan.

Di sinilah hubungan emas, oil, dan dolar menjadi sangat penting untuk dibaca secara bersamaan. Oil yang melonjak mendorong kekhawatiran inflasi global, inflasi yang lebih tinggi mengurangi peluang penurunan suku bunga, dan kondisi itu menopang dolar. Dolar yang kuat pada akhirnya menjadi beban bagi emas, meski emas tetap dicari sebagai aset lindung nilai saat konflik memanas. Artinya, emas sekarang tidak sedang bergerak dalam lingkungan safe haven yang “bersih”, melainkan dalam pasar yang terbelah antara kebutuhan perlindungan geopolitik dan tekanan moneter dari energi mahal. Karena itu, pergerakan emas belakangan cenderung choppy: naik karena risiko perang, tetapi tertahan karena pasar suku bunga kembali lebih hawkish.

Ke depan, pandangannya masih condong volatil. Untuk oil, selama Hormuz belum pulih penuh, harga masih berpotensi bertahan tinggi dan mudah melonjak lagi setiap kali muncul serangan baru, sehingga zona US$100+ untuk WTI dan kisaran di atas US$110 untuk Brent masih sangat masuk akal dalam jangka dekat. Untuk gold, peluang rebound tetap terbuka bila pasar kembali ragu pada proses damai atau jika konflik berubah menjadi krisis energi yang lebih panjang, tetapi kenaikannya kemungkinan tidak lurus karena dolar dan ekspektasi suku bunga masih menjadi penghambat utama. Dengan kata lain, outlook terdekatnya adalah oil tetap bias bullish secara struktural, sementara emas cenderung bullish-volatile: kuat saat ketegangan naik, namun rawan koreksi setiap kali pasar membaca headline damai sebagai langkah maju yang kredibel.

PT Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Selasa, 31 Maret 2026

Solid Gold | Emas Naik! Apa yang Mendorong Kenaikan Ini?

Solid Gold | Emas Naik! Apa yang Mendorong Kenaikan Ini?

Harga Emas hari ini – Harga emas pada sesi Asia hari ini mencatatkan lonjakan signifikan, diperdagangkan di kisaran $4537 per ounce. Kenaikan ini terutama dipicu oleh ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat, dengan ketegangan di Selat Hormuz dan kebijakan moneter yang dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar dolar AS. Situasi ini mendorong investor untuk beralih ke emas sebagai aset aman, menciptakan permintaan yang kuat di pasar

Namun, meskipun harga emas menunjukkan tren positif, tantangan tetap ada. Kebijakan moneter ketat di beberapa negara besar, seperti Amerika Serikat, dapat menekan permintaan terhadap logam mulia ini. Dengan ketegangan politik yang terus berkembang dan prospek ekonomi yang berubah-ubah, pasar emas tetap penuh ketidakpastian, membuat banyak pihak bertanya-tanya apakah harga ini akan bertahan atau justru berbalik arah.

Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Senin, 30 Maret 2026

PT Solid | Risk-Off Tekan Aussie di Awal Pekan


Harga Emas hari ini – AUD/USD melemah di awal pekan dan turun sekitar 0,3% ke area 0,6850 pada sesi Asia, setelah menembus level 0,6900. Pelemahan ini mencerminkan underperformance dolar Australia di tengah sentimen risk-off yang didorong kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah.

Tekanan pada aset berisiko terlihat dari turunnya futures S&P 500 sekitar 0,4%. Laporan Wall Street Journal yang menyebut AS mempertimbangkan penambahan hingga 10.000 pasukan untuk opsi operasi darat terhadap Iran, disertai peringatan keras dari Teheran, memperburuk kehati-hatian pasar dan menekan mata uang pro-siklus seperti AUD.

Dari sisi domestik, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengumumkan pemerintah akan memangkas cukai BBM (bensin dan diesel) menjadi 50% selama tiga bulan untuk meringankan beban rumah tangga di tengah kenaikan biaya energi akibat gangguan pasokan terkait perang.

Sementara itu, dolar AS cenderung stabil dengan DXY bertahan di atas 100, ditopang pergeseran ekspektasi suku bunga. Menurut CME FedWatch, pasar telah menyingkirkan proyeksi dua kali pemangkasan suku bunga yang sempat diperkirakan sebelum perang, dan kini melihat peluang 24,6% untuk setidaknya satu kali kenaikan suku bunga The Fed tahun ini faktor yang menjaga AUD/USD tetap rentan.

PT Solid

Sumber: Newsmaker.id

Selasa, 17 Maret 2026

Solid Gold | Emas Masih Terhalang Kenaikannya karena ini!

 

Harga Emas hari ini - Harga emas bergerak tipis setelah dolar AS melemah, sementara pelaku pasar menilai upaya meredam guncangan pasokan minyak yang muncul dari perang di Timur Tengah.

Pada perdagangan awal, emas batangan berada di sekitar US$5.000 per ounce, setelah turun 0,3% pada sesi sebelumnya. Pelemahan dolar memberi ruang penopang bagi emas karena membuat logam mulia relatif lebih murah bagi pembeli non-AS.

Di sisi lain, minyak kembali naik setelah jatuh pada Senin. Pasar menimbang rencana pelepasan cadangan darurat dan sinyal penambahan pasokan, berhadapan dengan meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur energi serta gangguan arus pengiriman melalui Selat Hormuz yang mendekati macet.

Ketegangan geopolitik yang berkepanjangan turut memunculkan risiko inflasi. Kondisi ini mengurangi peluang bank sentral AS untuk segera melonggarkan kebijakan, dan pelaku pasar kini menilai hampir tidak ada kemungkinan pemangkasan suku bunga pada pertemuan The Fed pekan ini.

Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menekan emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga. Namun, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai tetap bertahan di tengah ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran pasar terhadap independensi kebijakan moneter.

Spot gold tercatat nyaris tidak berubah di US$5.005,54 per ounce pada 07.05 waktu Singapura. Indeks dolar Bloomberg naik 0,1% setelah turun 0,6% pada Senin, sementara perak naik 0,1% ke US$80,90 dan platinum serta palladium ikut menguat. - Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id