Tampilkan postingan dengan label sg berjangka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sg berjangka. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2026

PT Solid | Emas Turun, Insiden Hormuz Picu Kekhawatiran!

 

Harga Emas hari ini - Harga emas melemah setelah kapal-kapal kembali mendapat tembakan di Selat Hormuz pada akhir pekan, memicu kekhawatiran baru soal gangguan pasokan energi yang memperkuat tekanan inflasi selama lebih dari tujuh pekan konflik di Timur Tengah. Bullion turun mendekati $4.762 per ons pada perdagangan awal, memangkas sebagian besar kenaikan 1,7% pekan lalu.

Presiden Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran, sementara Teheran memperingatkan kapal yang mendekati selat akan dianggap melanggar gencatan senjata. Sejumlah kapal dilaporkan terpaksa membatalkan penyeberangan hanya beberapa jam setelah Iran menyatakan jalur tersebut terbuka, sehingga kembali menambah ketidakpastian logistik di titik kunci perdagangan energi global.

Perkembangan terbaru juga menekan peluang perundingan damai di Islamabad. Trump menyebut melihat peluang kesepakatan, tetapi juga kembali mengeluarkan ancaman terhadap infrastruktur Iran, sementara Iran menyatakan tidak ada “prospek yang jelas” untuk tercapainya kesepakatan. Episode ini menegaskan rapuhnya gencatan senjata yang disebut akan berakhir pada Selasa.

Di pasar lain, harga minyak melonjak pada Senin setelah sempat turun pada sesi sebelumnya ketika Iran menyatakan Hormuz “sepenuhnya terbuka”. Kontrak berjangka saham AS melemah, sementara indeks dolar menguat hingga sekitar 0,3%, yang menekan emas karena dihargakan dalam dolar AS.

Dari sisi fundamental, guncangan pasokan energi yang berkepanjangan meningkatkan risiko inflasi, sehingga bank sentral dinilai lebih mungkin menahan suku bunga atau bahkan menaikkannya, kondisi yang menjadi hambatan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil. Spot gold turun 1% ke $4.780,89 per ons pada 06.57 di Singapura; perak turun 1,6% ke $79,59, sementara platinum dan palladium juga melemah, dengan Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,2%.- PT Solid 

Sumber: Newsmaker.id

Rabu, 08 April 2026

PT Solid Gold | Gencatan Senjata Dua Minggu Tekan DXY, FOMC Jadi Kunci

 

Harga Emas hari ini - Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia, melemah dan diperdagangkan di sekitar 99,05 pada sesi Asia, Rabu (8/04). Pelemahan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui gencatan senjata selama dua minggu, menyusul sebelumnya ancaman serangan besar-besaran.

Trump menyatakan pada Selasa malam bahwa ia setuju “menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama periode dua minggu” dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz. Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut jalur aman di jalur air utama itu akan memungkinkan selama dua minggu melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran.

Pasar menilai perkembangan ini berpotensi menurunkan permintaan dolar sebagai aset lindung nilai ketika risiko geopolitik mereda. Namun, pelaku pasar tetap mencermati implementasi gencatan senjata dan dinamika di Selat Hormuz, mengingat kawasan tersebut menjadi jalur strategis yang sensitif terhadap gangguan logistik dan energi.

AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Islamabad, Pakistan, pada Jumat untuk merampungkan rincian kesepakatan. Setiap sinyal de-eskalasi lebih lanjut dapat kembali menekan daya tarik dolar sebagai safe haven, sementara tanda-tanda ketegangan yang muncul lagi berisiko mengembalikan permintaan defensif pada aset berdenominasi USD.

Selain faktor geopolitik, fokus pasar beralih ke rilis risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu. Dokumen ini dipantau untuk membaca penilaian pejabat Federal Reserve terhadap guncangan energi terbaru terkait konflik di Timur Tengah, yang dapat memengaruhi ekspektasi inflasi serta arah suku bunga.

Nada yang lebih hawkish dari The Fed berpotensi memberi dukungan jangka dekat bagi dolar terhadap mata uang utama lain. Sementara itu, indikator pasar suku bunga menunjukkan overnight-indexed swaps memberi sinyal probabilitas sekitar 40% untuk penurunan suku bunga The Fed hingga akhir tahun, menurut CME FedWatch Tool—menjadikan isi risalah, perkembangan negosiasi di Islamabad, dan kondisi Selat Hormuz sebagai variabel utama yang akan dipantau pasar berikutnya. - PT Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Selasa, 07 April 2026

Solid Gold | Harga Minyak Naik Tipis setelah Trump Tegaskan Ancaman Serang Infrastruktur Iran

 

Harga Emas hari ini - Harga minyak menguat tipis pada Senin (6/3) setelah Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan ancamannya untuk menghancurkan infrastruktur sipil Iran jika Republik Islam itu tidak menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz. Pasar menilai retorika tersebut memperbesar risiko geopolitik dan memperpanjang ketidakpastian atas kelancaran arus energi di jalur pelayaran strategis itu.

Kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 0,78% dan ditutup di US$112,41 per barel. Sementara patokan global Brent menguat 0,68% dan menetap di US$109,77 per barel.

“Kita harus punya kesepakatan yang bisa saya terima, dan bagian dari kesepakatan itu adalah kami ingin lalu lintas bebas untuk minyak dan semua hal lainnya,” kata Trump kepada wartawan dalam konferensi pers pada Senin.

Trump kembali menekankan tuntutannya agar Iran membuka Selat Hormuz paling lambat Selasa pukul 20.00 waktu AS (ET). Ia mengatakan meyakini kepemimpinan Iran sedang bernegosiasi dengan itikad baik.

“Saya bisa katakan ada pihak yang aktif dan bersedia di sisi lain,” ujar Trump. “Mereka ingin bisa membuat kesepakatan. Saya tidak bisa mengatakan lebih banyak.”

Trump kemudian mengancam akan melumpuhkan setiap jembatan dan pembangkit listrik di Iran dalam waktu empat jam setelah tenggat Selasa jika tidak ada kesepakatan. “Mereka butuh 100 tahun untuk membangunnya kembali,” kata Trump. - Solid Gold

Sumber : Newsmaker.id

Kamis, 02 April 2026

Solid Gold Berjangka | Minyak Melonjak usai Trump Isyaratkan Eskalasi Serangan ke Iran

Solid Gold Berjangka | Minyak Melonjak usai Trump Isyaratkan Eskalasi Serangan ke Iran

Harga Emas hari ini – Harga minyak menguat tajam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan menghantam Iran “sangat keras” dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Pernyataan itu kembali memicu kekhawatiran pasar soal kelanjutan pasokan energi, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting pengiriman minyak global.

Brent melonjak menembus US$105 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik mendekati US$104 setelah Trump menyampaikan pidato prime-time yang jarang dilakukan. Dalam pernyataannya, Trump juga mengatakan negara-negara yang bergantung pada minyak lewat Hormuz seharusnya mengambil peran utama dalam melindungi pengiriman, dan mengklaim jalur itu akan terbuka “secara alami” setelah perang berakhir.

Konflik tersebut secara efektif membuat Selat Hormuz tertutup, menahan pasokan minyak mentah, gas, serta produk energi seperti solar ke pasar global. Situasi ini mendorong kenaikan harga energi dan memperbesar kekhawatiran krisis inflasi di sejumlah negara.

Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak sempat turun karena optimisme konflik bisa mereda. Namun, Brent masih lebih dari 40% lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang, sehingga pasar menilai guncangan pasokan belum selesai. Sejumlah analis menilai pidato Trump membuat pasar kembali memasukkan skenario kampanye militer yang lebih intens, sementara kepastian kapan konflik berakhir belum terlihat jelas.

Ketegangan soal Hormuz tetap menjadi isu paling krusial bagi pasar energi. Trump sebelumnya mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran jika jalur itu dibuka kembali, lalu meminta negara lain mengambil langkah untuk merebut kendali jalur tersebut. Uni Emirat Arab termasuk negara Teluk yang mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa memberi mandat penggunaan kekuatan untuk membuka kembali jalur itu.

Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan masa depan Selat Hormuz akan ditentukan Iran dan Oman. Iran juga menegaskan jalur itu tidak akan dibuka hanya karena “aksi” Presiden AS, menandakan posisi Teheran masih keras dan berpotensi memperluas wilayah pasokan.

Pasar juga menilai normalisasi arus pengiriman tidak akan cepat, bahkan jika perang berakhir dalam beberapa pekan. Kerusakan pada infrastruktur energi diperkirakan memerlukan waktu perbaikan, sementara akumulasi pasukan AS di kawasan menjaga eskalasi risiko tetap tinggi. Di tengah volatilitas, investor meningkatkan transaksi opsi untuk mengantisipasi berbagai skenario harga, sementara Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan beberapa negara dapat menghadapi penjatahan energi ketika guncangan pasokan semakin dalam bulan ini.

Solid Gold Berjangka

Sumber: Newsmaker.id

Rabu, 01 April 2026

PT Solid Gold | Damai Semu, Harga Tetap Panas!

PT Solid Gold | Damai Semu, Harga Tetap Panas!

Harga Emas hari ini – Sinyal de-eskalasi perang dari Donald Trump memberi napas pendek bagi pasar, tetapi belum cukup kuat untuk menghapus rasa takut investor. Laporan terbaru menyebut Trump bersedia mengakhiri kampanye militer terhadap Iran bahkan jika Selat Hormuz belum sepenuhnya dibuka, dan headline itu langsung dibaca pasar sebagai peluang meredanya eskalasi. Namun, pasar juga sadar bahwa ini baru sinyal politik, bukan penyelesaian nyata di lapangan. Selama jalur energi paling vital di dunia masih terganggu, de-eskalasi yang muncul lebih tepat disebut sebagai “cooling of tone” ketimbang perdamaian yang benar-benar solid.

Reaksi paling cepat terlihat di pasar minyak. Setelah sebelumnya melonjak tajam akibat premi perang dan kekhawatiran gangguan pasokan, harga oil sempat turun sekitar 1% di sesi Asia usai kabar Trump tersebut muncul. Reuters mencatat Brent turun ke sekitar US$111,56 per barel dan WTI ke kisaran US$101,90, menandakan bahwa sebagian pelaku pasar mulai melepas posisi defensif ketika peluang perang berkepanjangan terlihat sedikit mereda. Meski begitu, koreksi ini lebih mencerminkan pengurangan panic premium, bukan perubahan mendasar pada risiko pasokan global. Dengan kata lain, pasar minyak turun karena tensinya sedikit berkurang, bukan karena problem energinya sudah selesai.

Yang membuat oil tetap sensitif adalah fakta bahwa masalah utamanya masih belum terselesaikan: arus energi melalui Hormuz belum pulih normal. Jalur ini sangat krusial bagi perdagangan minyak global, dan pasar memahami bahwa tanpa pembukaan penuh Hormuz, pasokan tetap berisiko terganggu. Reuters juga melaporkan serangan terhadap kapal tanker di dekat Dubai serta pengalihan rute ekspor Saudi, yang menegaskan bahwa risiko logistik dan keamanan masih nyata. Karena itu, walaupun headline de-eskalasi menekan harga sementara, ruang penurunan oil masih terbatas selama gangguan fisik terhadap rantai suplai energi belum benar-benar hilang.

Di pasar mata uang, dampaknya ke dolar cenderung lebih kompleks. Secara intraday, DXY sempat melemah dari puncak tertinggi tahun ini dan bergerak di bawah 100,50 karena harapan de-eskalasi mengurangi sebagian permintaan safe haven. Tetapi pelemahan itu tidak agresif, sebab pasar masih menilai lonjakan harga energi berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi dan membuat Federal Reserve sulit cepat beralih dovish. Reuters mencatat dolar justru membukukan kenaikan bulanan sekitar 2,9% pada Maret, yang menjadi penguatan bulanan terbesarnya sejak Juli 2025. Jadi, untuk saat ini dolar tertahan antara dua kekuatan: kabar damai yang menekan permintaan aman, dan ancaman inflasi energi yang menopang ekspektasi suku bunga lebih tinggi lebih lama.

Emas bergerak dengan pola yang juga tidak sederhana. Secara teori, kabar de-eskalasi mestinya menekan emas karena kebutuhan hedging geopolitik berkurang. Namun realitas pasar menunjukkan emas justru masih mampu naik harian, dengan Reuters mencatat spot gold menguat sekitar 1,1% ke kisaran US$4.561,68 per ounce pada Selasa. Ini menunjukkan bahwa investor belum benar-benar keluar dari mode perlindungan. Ada dua alasan utama: pertama, konflik belum benar-benar selesai; kedua, pasar masih melihat risiko ekonomi global dari guncangan energi. Meski begitu, tekanan terhadap emas belum hilang, karena dolar yang kuat dan memudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed membuat kenaikan emas tidak lepas dan tetap rentan tertahan.

Di sinilah hubungan emas, oil, dan dolar menjadi sangat penting untuk dibaca secara bersamaan. Oil yang melonjak mendorong kekhawatiran inflasi global, inflasi yang lebih tinggi mengurangi peluang penurunan suku bunga, dan kondisi itu menopang dolar. Dolar yang kuat pada akhirnya menjadi beban bagi emas, meski emas tetap dicari sebagai aset lindung nilai saat konflik memanas. Artinya, emas sekarang tidak sedang bergerak dalam lingkungan safe haven yang “bersih”, melainkan dalam pasar yang terbelah antara kebutuhan perlindungan geopolitik dan tekanan moneter dari energi mahal. Karena itu, pergerakan emas belakangan cenderung choppy: naik karena risiko perang, tetapi tertahan karena pasar suku bunga kembali lebih hawkish.

Ke depan, pandangannya masih condong volatil. Untuk oil, selama Hormuz belum pulih penuh, harga masih berpotensi bertahan tinggi dan mudah melonjak lagi setiap kali muncul serangan baru, sehingga zona US$100+ untuk WTI dan kisaran di atas US$110 untuk Brent masih sangat masuk akal dalam jangka dekat. Untuk gold, peluang rebound tetap terbuka bila pasar kembali ragu pada proses damai atau jika konflik berubah menjadi krisis energi yang lebih panjang, tetapi kenaikannya kemungkinan tidak lurus karena dolar dan ekspektasi suku bunga masih menjadi penghambat utama. Dengan kata lain, outlook terdekatnya adalah oil tetap bias bullish secara struktural, sementara emas cenderung bullish-volatile: kuat saat ketegangan naik, namun rawan koreksi setiap kali pasar membaca headline damai sebagai langkah maju yang kredibel.

PT Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Selasa, 31 Maret 2026

Solid Gold | Emas Naik! Apa yang Mendorong Kenaikan Ini?

Solid Gold | Emas Naik! Apa yang Mendorong Kenaikan Ini?

Harga Emas hari ini – Harga emas pada sesi Asia hari ini mencatatkan lonjakan signifikan, diperdagangkan di kisaran $4537 per ounce. Kenaikan ini terutama dipicu oleh ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat, dengan ketegangan di Selat Hormuz dan kebijakan moneter yang dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar dolar AS. Situasi ini mendorong investor untuk beralih ke emas sebagai aset aman, menciptakan permintaan yang kuat di pasar

Namun, meskipun harga emas menunjukkan tren positif, tantangan tetap ada. Kebijakan moneter ketat di beberapa negara besar, seperti Amerika Serikat, dapat menekan permintaan terhadap logam mulia ini. Dengan ketegangan politik yang terus berkembang dan prospek ekonomi yang berubah-ubah, pasar emas tetap penuh ketidakpastian, membuat banyak pihak bertanya-tanya apakah harga ini akan bertahan atau justru berbalik arah.

Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Senin, 30 Maret 2026

PT Solid | Risk-Off Tekan Aussie di Awal Pekan


Harga Emas hari ini – AUD/USD melemah di awal pekan dan turun sekitar 0,3% ke area 0,6850 pada sesi Asia, setelah menembus level 0,6900. Pelemahan ini mencerminkan underperformance dolar Australia di tengah sentimen risk-off yang didorong kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah.

Tekanan pada aset berisiko terlihat dari turunnya futures S&P 500 sekitar 0,4%. Laporan Wall Street Journal yang menyebut AS mempertimbangkan penambahan hingga 10.000 pasukan untuk opsi operasi darat terhadap Iran, disertai peringatan keras dari Teheran, memperburuk kehati-hatian pasar dan menekan mata uang pro-siklus seperti AUD.

Dari sisi domestik, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengumumkan pemerintah akan memangkas cukai BBM (bensin dan diesel) menjadi 50% selama tiga bulan untuk meringankan beban rumah tangga di tengah kenaikan biaya energi akibat gangguan pasokan terkait perang.

Sementara itu, dolar AS cenderung stabil dengan DXY bertahan di atas 100, ditopang pergeseran ekspektasi suku bunga. Menurut CME FedWatch, pasar telah menyingkirkan proyeksi dua kali pemangkasan suku bunga yang sempat diperkirakan sebelum perang, dan kini melihat peluang 24,6% untuk setidaknya satu kali kenaikan suku bunga The Fed tahun ini faktor yang menjaga AUD/USD tetap rentan.

PT Solid

Sumber: Newsmaker.id

Selasa, 17 Maret 2026

Solid Gold | Emas Masih Terhalang Kenaikannya karena ini!

 

Harga Emas hari ini - Harga emas bergerak tipis setelah dolar AS melemah, sementara pelaku pasar menilai upaya meredam guncangan pasokan minyak yang muncul dari perang di Timur Tengah.

Pada perdagangan awal, emas batangan berada di sekitar US$5.000 per ounce, setelah turun 0,3% pada sesi sebelumnya. Pelemahan dolar memberi ruang penopang bagi emas karena membuat logam mulia relatif lebih murah bagi pembeli non-AS.

Di sisi lain, minyak kembali naik setelah jatuh pada Senin. Pasar menimbang rencana pelepasan cadangan darurat dan sinyal penambahan pasokan, berhadapan dengan meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur energi serta gangguan arus pengiriman melalui Selat Hormuz yang mendekati macet.

Ketegangan geopolitik yang berkepanjangan turut memunculkan risiko inflasi. Kondisi ini mengurangi peluang bank sentral AS untuk segera melonggarkan kebijakan, dan pelaku pasar kini menilai hampir tidak ada kemungkinan pemangkasan suku bunga pada pertemuan The Fed pekan ini.

Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menekan emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga. Namun, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai tetap bertahan di tengah ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran pasar terhadap independensi kebijakan moneter.

Spot gold tercatat nyaris tidak berubah di US$5.005,54 per ounce pada 07.05 waktu Singapura. Indeks dolar Bloomberg naik 0,1% setelah turun 0,6% pada Senin, sementara perak naik 0,1% ke US$80,90 dan platinum serta palladium ikut menguat. - Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Senin, 16 Maret 2026

PT Solid | Minyak Naik Usai Serangan ke Kharg Perbesar Risiko Pasokan

 

Harga Emas hari ini - Harga minyak dunia kembali menguat setelah serangan Amerika Serikat ke Pulau Kharg, pusat ekspor utama minyak Iran, memperbesar eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan ini dinilai meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global yang selama lebih dari dua pekan terakhir sudah terganggu akibat perang di kawasan tersebut.

Brent sempat naik hingga 3,3% dan diperdagangkan di sekitar US$105 per barel, setelah melonjak lebih dari 40% dalam dua minggu terakhir. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berada dekat level US$100 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah Iran melancarkan serangan balasan ke Israel dan sejumlah negara Arab, menyusul serangan AS ke fasilitas militer di Pulau Kharg.

Serangan terhadap Kharg memperluas cakupan konflik yang sebelumnya telah menekan arus distribusi minyak global. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut gangguan ini sebagai disrupsi pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak dunia. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur vital penghubung Teluk Persia ke pasar internasional, juga masih nyaris terhenti sejak konflik dimulai.

Meski laporan media Iran menyebut ekspor dari Kharg masih berjalan normal, pelaku pasar tetap melihat risiko pasokan semakin besar. Gangguan tambahan, sekecil apa pun, berpotensi membuat pasar minyak makin ketat. Kekhawatiran ini juga diperparah oleh terganggunya aktivitas ekspor di Fujairah, Uni Emirat Arab, akibat serangan drone pada akhir pekan, meski operasional kembali berjalan sehari setelahnya.

Untuk saat ini, pasar menilai lonjakan harga minyak lebih mencerminkan risiko gangguan pasokan daripada skenario krisis penuh. Namun, selama konflik terus berlanjut dan belum ada kejelasan soal gencatan senjata, premi geopolitik diperkirakan tetap bertahan tinggi. Artinya, minyak masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tetap kuat selama ancaman terhadap pasokan global belum benar-benar mereda. - PT Solid

Sumber: Newsmaker.id

Kamis, 12 Maret 2026

Solid Gold Berjangka | Tarik Menarik RBA dan Risiko Timur Tengah Tekan AUD/USD

 

Harga Emas hari ini - AUD/USD melemah tipis pada perdagangan Kamis sesi Asia, mengakhiri empat hari dan mundur dari puncak tertinggi sejak Juni 2022 di sekitar 0,7185. Meski sempat turun, pasangan ini memantulkan beberapa pip dari level terendah harian dan bergerak di kisaran 0,7100-an, turun sekitar 0,10%.

Tekanan utama datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong permintaan aset aman seperti Dolar AS. Laporan bahwa dua kapal tanker diserang di Teluk Persia bagian utara dekat Irak dan Kuwait membuat harga minyak melonjak lebih dari 6%, memicu kekhawatiran gangguan pasokan dan menurunkan minat terhadap aset berisiko.

Di sisi AS, data inflasi terbaru menunjukkan harga konsumen naik 0,2% secara bulanan pada bulan Februari dan inflasi tahunan bertahan di 3,1%. Angka ini memberi sinyal inflasi masih moderat, tetapi eskalasi konflik menimbulkan risiko inflasi baru melalui penambahan energi, yang ikut mengangkat imbal hasil obligasi AS dan memperkuat Dolar AS.

Namun, pelemahan Aussie tertahan oleh nada hawkish dari Reserve Bank of Australia (RBA). Deputi Gubernur RBA Andrew Hauser sebelumnya menilai harga minyak berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi dan menambah tekanan untuk menaikkan suku bunga, sehingga pasar mulai menggeser ekspektasi kenaikan suku bunga berikutnya lebih cepat.

Indikator domestik juga mendukung kebijakan prospek yang lebih ketat. Laporan Melbourne Institute menunjukkan ekspektasi inflasi konsumen Australia untuk Maret 2025 naik menjadi 5,2% pada Februari, level tertinggi sejak Juli 2023, sementara pasar juga sudah memperhitungkan total pengetatan sekitar 58 bps untuk tahun ini.

Dengan kombinasi Dolar AS yang diuntungkan oleh arus safe-haven dan Aussie yang ditopang spekulasi kenaikan suku bunga RBA, arah AUD/USD cenderung menahan tarik-menarik dua faktor ini. Pelaku pasar akan mencakup perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak, serta sinyal terbaru dari RBA untuk menentukan apakah koreksi berlanjut atau hanya jeda sementara. - Solid Gold Berjangka

Sumber: Newsmasker.id

Selasa, 10 Maret 2026

Solid Gold | Emas Stabil Usai Dolar AS Melemah, Pasar Cermati Sinyal Timur Tengah

 

Harga Emas hari ini - Harga emas relatif stabil setelah dolar AS melemah menyusul komentar Presiden AS Donald Trump bahwa perang di Timur Tengah mungkin akan segera berakhir. Emas batangan diperdagangkan di sekitar US$5.140 per ons pada perdagangan awal, setelah turun 0,6% pada sesi sebelumnya. Indeks dolar AS melemah hingga 0,1%, memperpanjang penurunan pada Senin, sementara harga minyak anjlok usai sesi yang sangat fluktuatif.

Setiap indikasi bahwa Washington bersedia mendorong de-eskalasi dapat mengurangi tekanan yang sempat membebani emas dalam beberapa hari terakhir. Sejak perang dimulai, serangan Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk Persia dan penutupan efektif Selat Hormuz untuk pelayaran mendorong reli harga minyak. Lonjakan energi itu memperkuat kekhawatiran inflasi dan pada gilirannya mengurangi ruang bagi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga.

Namun, kepemilikan emas tetap menghadapi tantangan karena pasar menyesuaikan ekspektasi suku bunga. Daniel Ghali, ahli strategi komoditas senior TD Securities, mengatakan pasar telah memperhitungkan perubahan prospek penurunan suku bunga, meski ada tanda sebagian pelaku “membeli saat harga turun” di pasar fisik over-the-counter. Ia menambahkan, volume pembelian tersebut masih terbatas dan berada pada skala yang dianggap normal.

Secara fundamental, biaya pinjaman yang lebih tinggi biasanya menjadi hambatan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil. Di saat yang sama, emas juga berperan sebagai sumber likuiditas ketika pasar ekuitas global tertekan selama konflik berlangsung. Meski perdagangan bergejolak dan momentum kenaikan tertahan, emas masih mencatat kenaikan hampir seperlima sepanjang tahun ini, ditopang ketidakpastian perdagangan dan geopolitik global serta isu independensi The Fed.

Pada pukul 07.06 waktu Singapura, spot gold sedikit berubah di US$5.139,67 per ons. Perak naik 0,3% ke US$87,25, sementara platinum dan paladium turun tipis. Indeks Spot Dolar Bloomberg sedikit melemah setelah turun 0,2% pada sesi sebelumnya. - Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Senin, 09 Maret 2026

PT Solid | Pasar Pekan Ini Dibayangi Perang dan Ancaman Inflasi

 

Harga Emas hari ini - Pergerakan emas dalam pekan kemarin menunjukkan dinamika yang sangat dipengaruhi oleh tarik-menarik antara sentimen safe haven dan tekanan dari dolar AS serta yield obligasi. Di satu sisi, eskalasi konflik Iran meningkatkan ketidakpastian geopolitik dan memunculkan kekhawatiran atas potensi gangguan energi, sehingga mendorong arus dana masuk ke aset aman seperti emas. Ketidakjelasan mengenai durasi perang dan kemungkinan eskalasi lanjutan membuat minat terhadap safe haven tetap terjaga. Namun di sisi lain, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi beberapa kali menekan harga emas karena meningkatkan biaya peluang memegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

Lonjakan harga energi juga menjadi faktor penting yang membentuk arah pasar emas. Kenaikan minyak memicu kekhawatiran inflasi di Amerika Serikat, sehingga pelaku pasar mulai memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Kondisi ini membuat dolar dan yield cenderung menguat, yang pada akhirnya membatasi ruang penguatan emas meskipun risiko geopolitik tetap tinggi. Saat tekanan dolar mereda, emas sempat memperoleh ruang untuk pulih, dibantu aksi beli di area harga yang lebih rendah. Artinya, selama periode ini, emas bergerak dalam pola yang sensitif terhadap dua katalis utama: headline perang yang menopang permintaan safe haven, serta perubahan ekspektasi suku bunga yang memengaruhi kekuatan dolar dan obligasi.

Menjelang akhir periode, emas kembali mendapat dukungan setelah data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan. Data ini menghidupkan kembali harapan akan peluang kebijakan moneter yang lebih longgar, sehingga membantu memperbaiki sentimen terhadap emas. Meski demikian, pasar tetap sangat reaktif terhadap perkembangan geopolitik. Setiap kabar eskalasi konflik cenderung mengangkat daya tarik safe haven, tetapi penguatan dolar dan yield bisa sewaktu-waktu kembali menahan laju kenaikan. Dengan demikian, arah emas selama pekan tersebut mencerminkan benturan antara kebutuhan lindung nilai terhadap risiko global dan tekanan makro dari inflasi energi serta prospek kebijakan The Fed.

Sementara itu, harga crude oil mencatat lonjakan sangat tajam, dipicu oleh kekhawatiran serius terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah seiring memburuknya konflik dan hambatan pengapalan di sekitar Selat Hormuz. Risiko geopolitik ini secara langsung meningkatkan premi risiko di pasar energi dan memperlebar volatilitas harian. Pada penutupan akhir pekan, Brent berakhir di US$92,69 per barel dan WTI di US$90,90 per barel, masing-masing mencatat kenaikan harian yang sangat kuat. Secara mingguan, Brent dilaporkan naik sekitar 28% dan WTI melonjak sekitar 36%, menjadikannya salah satu lonjakan mingguan terbesar dalam beberapa dekade, khususnya untuk WTI.

Kenaikan harga minyak berlangsung secara bertahap sebelum akhirnya melonjak tajam pada akhir periode. Data historis menunjukkan WTI bergerak dari kisaran awal US$71–75 per barel, kemudian naik ke sekitar US$81 per barel, sebelum mendekati US$91 per barel. Narasi utama yang menggerakkan pasar adalah ancaman terhadap kelancaran distribusi minyak dan produk energi yang biasanya melewati koridor Timur Tengah. Kekhawatiran ini memicu perlombaan mencari pasokan alternatif, sekaligus mendorong kenaikan biaya pengiriman dan asuransi. Akibatnya, bukan hanya harga berjangka yang naik, tetapi juga harga crude yang dikirim ke konsumen akhir ikut terdorong lebih tinggi.

Secara fundamental, lonjakan oil bergerak melalui dua saluran utama. Pertama, ekspektasi pasokan yang lebih ketat mengangkat harga futures dan memperbesar premi risiko. Kedua, kenaikan biaya logistik seperti freight dan insurance membuat harga delivered crude meningkat, yang pada akhirnya dapat mengubah margin kilang serta memperlebar diferensial harga antarwilayah. Tekanan terhadap rantai pasok energi ini memperkuat persepsi bahwa pasar sedang menghadapi risiko pasokan yang nyata, bukan sekadar sentimen sementara. Karena itu, kenaikan minyak pada periode tersebut tidak hanya merefleksikan kepanikan jangka pendek, tetapi juga penyesuaian pasar terhadap potensi disrupsi energi yang lebih luas.

Secara keseluruhan, periode ini memperlihatkan hubungan yang erat antara emas, minyak, dolar, dan ekspektasi suku bunga. Lonjakan harga minyak memperbesar risiko inflasi dan menopang dolar serta yield, yang menjadi hambatan bagi emas. Namun pada saat yang sama, konflik geopolitik yang mendasari kenaikan minyak juga menjaga permintaan safe haven tetap hidup. Hasilnya, emas bergerak fluktuatif dalam tekanan silang, sementara minyak menjadi aset yang paling dominan menguat karena langsung menerima dampak dari ancaman gangguan pasokan global.

Prediksi pekan ini.

Market pekan ini masih dipimpin geopolitik, sementara data makro jadi penentu apakah tekanan itu makin kuat atau mulai reda. Perang AS–Israel dengan Iran, gangguan Selat Hormuz, dan lonjakan oil di atas US$100 membuat pasar masuk ke mode stagflation fear: inflasi dikhawatirkan naik lagi, peluang cut The Fed mundur, dolar tetap kuat, dan aset berisiko seperti saham jadi rapuh.

Dampaknya, oil masih punya bias paling bullish selama risiko pasokan belum mereda, meski rawan volatilitas tajam. Emas tetap didukung status safe haven, tetapi kenaikannya tidak mulus karena tertahan dolar dan yield saat pasar takut inflasi energi. Dolar AS sendiri masih kuat karena ditopang arus aman dan posisi AS sebagai eksportir energi. Kunci pekan ini ada di CPI AS dan data energi: kalau inflasi panas, dolar dan oil bisa lanjut kuat sementara saham tertekan dan emas makin liar; kalau inflasi lebih jinak dan tensi perang tidak memburuk, dolar bisa agak reda, emas berpeluang rebound, dan oil berpotensi koreksi terbatas.

 

DISCLAIMER

Catatan: Artikel ini hanya analisis dan bukan referensi definitif. Perhatikan perkembangan aspek fundamental dan teknis dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi. - PT Solid

Sumber :  Newsmaker.id

Jumat, 06 Maret 2026

PT Solid Gold Berjangka | Trump Klaim Ingin Ikut Tentukan Pemimpin Iran!

 

Harga Emas hari ini - Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington ingin terlibat dalam proses pemilihan pemimpin Iran berikutnya, ketika eskalasi perang berlanjut pada hari Kamis dengan serangan udara AS dan Israel di sejumlah wilayah Iran serta bombardir baru di beberapa kota Teluk. Pernyataan itu menambah dimensi politik pada konflik yang sudah mengguncang sentimen risiko global.

Dalam wawancara telepon dengan Reuters, Trump menilai Mojtaba Khamenei, putra mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang kerap disebut kandidat penerus, sebagai pilihan yang kecil kemungkinannya. Ia menyatakan AS “ingin terlibat” dalam proses menentukan sosok yang akan memimpin Iran di masa depan.

Trump juga menyampaikan dukungan agar pasukan Kurdi Iran melakukan serangan. Ia mengonfirmasi pemerintahnya telah melakukan kontak dengan kelompok Kurdi Iran sejak serangan AS-Israel dimulai, namun tidak menjelaskan apakah AS akan memberikan dukungan udara untuk langkah tersebut. Sumber keamanan menyebut dua serangan drone menargetkan kamp oposisi Iran di Kurdistan Irak dan sebuah ladang minyak yang dioperasikan perusahaan AS.

Di lapangan, militer Israel memperingatkan warga untuk mengevakuasi sejumlah wilayah termasuk Teheran timur, sementara media Iran melaporkan terdengar ledakan di berbagai bagian ibu kota. Televisi pemerintah Iran menyebut serangan udara menjatuhkan 17 orang di sebuah rumah tamu di jalan barat laut Teheran.

Dari pihak AS, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Laksamana Brad Cooper menyatakan AS memiliki persediaan amunisi yang cukup untuk melanjutkan bombardir dalam jangka panjang. Mereka juga menyampaikan klaim operasional, termasuk serangan terhadap kapal-kapal Iran dan penggunaan pengebom B-2 yang menjatuhkan puluhan bom “penetrator” untuk membidik peluncur rudal balistik yang tertanam di dalamnya, serta fasilitas produksi rudal.

Cooper mengatakan serangan rudal balistik Iran menurun 90% sejak hari pertama perang, sementara serangan drone turun 83% dalam periode yang sama. Klaim tersebut disampaikan di tengah penilaian bahwa kemampuan serangan di balik Iran melemah, namun serangan lintas wilayah belum berhenti.

Di sisi domestik AS, laporan tersebut ketegangan konflik ini menjadi taruhan politik bagi Trump, dengan jajak pendapat menunjukkan dukungan publik yang terbatas dan kekhawatiran warga terhadap kenaikan harga bensin akibat gangguan pasokan energi. Trump menepis kekhawatiran itu, namun sensitivitas harga energi tetap menjadi saluran transmisi utama konflik ke pasar.

Pada hari keenam perang, Iran meluncurkan rangkaian serangan ke Israel, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Di Bahrain, petugas pemadam kebakaran memadamkan kebakaran di sebuah kilang setelah serangan rudal. Pelaku pasar kini memadukan intensitas serangan, risiko terhadap infrastruktur energi, serta kebijakan respons AS yang berpotensi mempengaruhi ekspektasi inflasi dan volatilitas aset berisiko. - PT Solid Gold Berjangka

Sumber: Newsmaker.id

Senin, 02 Maret 2026

PT Solid | Emas Melonjak 2%: Ada Apa di Timur Tengah?

 

Harga Emas hari ini - Harga emas melonjak tajam pada awal pekan, dipicu eskalasi perang di Timur Tengah yang bikin pasar global “mode waspada” dan investor buru-buru pindah ke aset aman.

Dalam perdagangan awal Asia, emas sempat naik lebih dari 2% ke kisaran US$5.390/oz, melanjutkan kenaikan pekan lalu yang sudah lebih dari 3%. Kenaikan ini terjadi saat ketegangan geopolitik makin panas dan sentimen safe haven kembali dominan.

Konflik melebar setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran, lalu Teheran membalas dengan gelombang rudal yang dilaporkan menghantam target di beberapa negara. Situasi makin mengguncang pasar setelah laporan menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas pada hari pertama serangan.

Bloomberg menilai reli emas ini juga didorong faktor yang sudah lama jalan: tensi geopolitik global, perubahan arah kebijakan luar negeri AS, serta tren investor yang mengurangi eksposur ke obligasi dan mata uang, sementara pembelian bank sentral tetap tinggi.

Dampaknya terasa lintas aset: minyak melonjak paling besar dalam empat tahun di tengah kekhawatiran gangguan pasokan termasuk isu “efektif tertutupnya” Selat Hormuz sementara indeks dolar AS ikut menguat. Artinya, pasar lagi menilai risiko pasokan energi dan risiko geopolitik sebagai tema utama.

Selain emas, logam mulia lain ikut naik: perak menguat, disusul platinum dan palladium. Pada saat yang sama, penguatan dolar tidak menghentikan reli komoditas—menunjukkan investor menganggap “hard assets” sebagai pelindung nilai di fase ekstrem seperti sekarang.

Inti Poin :

- Emas naik tajam karena investor “lari ke aman” saat perang Timur Tengah makin luas.

- Harga emas sempat tembus sekitar US$5.390/oz pada awal sesi Asia.

- Serangan AS–Israel ke Iran dan balasan rudal Iran meningkatkan risiko geopolitik regional.

- Pasar komoditas ikut bergejolak: minyak melonjak besar akibat kekhawatiran pasokan/Selat Hormuz.

- Perak, platinum, dan palladium juga menguat; dolar naik tapi tidak “mematikan” reli komoditas. - PT Solid

Sumber: Newsmaker.id

Kamis, 26 Februari 2026

Solid Gold Berjangka | Saham Asia Menguat, Euforia Tertahan karena Nvidia

 

Harga Emas hari ini - Bursa saham Asia dibuka menguat pada hari Kamis, mengikuti penguatan Wall Street pada sesi sebelumnya. MSCI Asia Pacific Index naik sekitar 0,8%, namun optimisme pasar bertahan setelah respon investor terhadap proyeksi penjualan Nvidia dinilai tidak cukup meyakinkan, sehingga kekhawatiran soal valuasi dan “ekonomi AI yang terlalu panas” kembali muncul.

Di AS, S&P 500 naik 0,8% dan Nasdaq 100 menguat 1,4% pada hari Rabu. Di pasar obligasi, Treasury melemah di seluruh tenor, sementara dolar AS turun tipis. Logam mulia sempat berfluktuasi namun tetap ditutup positif, sedangkan Bitcoin turun sekitar 1,5% dan disimpan di bawah $68.000.

Pelaku pasar sebelumnya berharap Nvidia memberi “kepastian” bahwa belanja AI masih solid dan bisa meredakan kekhawatiran bahwa reli harga saham sudah melampaui fundamental. Meskipun Nvidia menegaskan ekspansi komputasi AI masih berjalan, pasar menilai proyeksi perusahaan belum cukup untuk menghapus keraguan—terutama karena sebagian investor memasang ekspektasi yang sangat tinggi (beberapa proyeksi analis bahkan mendekati $80 miliar, di atas perkiraan rata-rata Wall Street sekitar $72,8 miliar).

Di Asia, tema AI tetap menjadi pendorong penting karena investor terus masuk ke saham-saham “picks and shovels” rantai pasok semikonduktor seperti Samsung dan TSMC. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump akan mengumpulkan para eksekutif perusahaan teknologi besar pekan depan untuk komitmen mendanai data listrik pusat, serta menyiapkan Arah untuk menaikkan tarif global menjadi 15% “jika sesuai” sambil mendorong kesinambungan dengan negara-negara yang telah memiliki perdagangan—faktor yang berpotensi menjaga volatilitas tetap tinggi. - Solid Gold Berjangka

Sumber: Newsmaker.id

Selasa, 24 Februari 2026

Solid Gold | Emas Terguncang, Pasar Cerna Risiko Tarif & Iran

 

Harga Emas hari ini - Harga emas turun ke bawah $5.149/oz pada Selasa setelah menguat selama empat hari beruntun. Koreksi ini terjadi saat pelaku pasar mengevaluasi ulang risiko tarif terbaru AS dan ketidakpastian geopolitik yang masih bertahan.

Dari sisi perdagangan, pemerintahan Trump berupaya menghidupkan kembali agenda tarif global setelah putusan Mahkamah Agung pekan lalu membatalkan banyak bea masuk yang diberlakukan tahun lalu. Pemerintah mengumumkan tarif baru 10% yang mulai berlaku Selasa, dan Trump kemudian mengancam akan menaikkannya menjadi 15%.

Trump juga memperingatkan pada Senin bahwa negara-negara yang “bermain-main” dengan perjanjian dagang yang sudah ada dapat menghadapi tarif yang lebih tinggi. Sinyal ini membuat pasar melihat arah kebijakan tarif masih bisa berubah cepat, sehingga volatilitas pada aset safe haven seperti emas tetap tinggi.

Dari sisi geopolitik, perhatian pasar tetap tertuju pada pembicaraan AS–Iran yang dijadwalkan berlanjut pada Kamis. Trump menyatakan lebih memilih penyelesaian lewat negosiasi, namun juga memberi peringatan adanya konsekuensi serius jika kesepakatan nuklir tidak tercapai—menjaga permintaan defensif tetap ada meski harga emas hari ini terkoreksi. - Solid Gold

Sumber: Newsmaker.id

Kamis, 19 Februari 2026

Solid Gold Berjangka | Tingkat Pengangguran Australia Lemah!

 

Harga Emas hari ini - Tingkat pengangguran Australia (seasonally adjusted) tercatat 4,1% pada Januari 2026, tidak berubah dibanding bulan sebelumnya. Angka ini juga sedikit lebih rendah dari perkiraan pasar 4,2%, sehingga memberi sinyal pasar tenaga kerja masih cukup solid.

Capaian 4,1% ini menjadi yang terendah sejak Mei, menegaskan bahwa ketahanan lapangan kerja Australia masih terjaga di tengah berbagai ketidakpastian ekonomi global.  - Solid Gold Berjangka

Sumber: Newsmaker.id

Rabu, 18 Februari 2026

PT Solid Gold | Volatilitas Tinggi Belum Reda, Emas Cari Arah Baru

 

Harga Emas hari ini - Harga emas bergerak relatif stabil setelah mencatat penurunan selama dua hari beruntun, di tengah aktivitas perdagangan yang cenderung tipis karena banyak pasar Asia libur Tahun Baru Imlek. Kondisi likuiditas yang rendah membuat pergerakan harga lebih mudah berfluktuasi meski tanpa katalis besar.

Pada awal perdagangan, emas batangan berada di sekitar $4.880 per ons, setelah terkoreksi lebih dari 3% dalam dua sesi sebelumnya ketika dolar AS menguat. Perdagangan juga disebut masih bergejolak sejak terjadi aksi jual besar di awal bulan. Indeks utama dolar sempat naik hingga 0,4% pada Selasa sebelum memangkas kenaikannya.

Sebelumnya, reli kuat membawa emas mencetak rekor baru di atas $5.595 per ons pada akhir Januari. Namun, pasar dinilai “terlalu panas” dan berbalik tajam, dengan harga sempat turun hampir ke $4.400 hanya dalam dua sesi. Emas memang telah pulih sebagian, tetapi belum menemukan level penopang (support) yang jelas.

Sejumlah bank besar, termasuk BNP Paribas SA, Deutsche Bank AG, dan Goldman Sachs Group Inc., memperkirakan tren naik berpotensi berlanjut. Faktor pendukung yang disebut masih kuat antara lain ketegangan geopolitik yang meningkat, pergeseran minat dari obligasi dan mata uang tertentu, serta kekhawatiran terkait independensi Federal Reserve.

Dalam jangka dekat, perhatian investor tertuju pada pernyataan pejabat The Fed untuk membaca arah kebijakan moneter AS. Ekspektasi pemangkasan suku bunga biasanya menjadi sentimen positif bagi logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Emas sempat menguat singkat pada Jumat ketika data inflasi yang moderat memperkuat alasan penurunan biaya pinjaman.

Dari sisi komentar kebijakan, Gubernur The Fed Michael Barr menyatakan suku bunga sebaiknya tetap stabil “untuk beberapa waktu” hingga ada bukti lebih kuat bahwa inflasi bergerak menuju target 2%. Sementara itu, Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menilai masih ada peluang penurunan suku bunga tahun ini bila inflasi terus melandai. Pada pukul 08.51 di Singapura, emas spot nyaris tidak berubah di $4.880,18, perak turun 1% ke $72,83, platinum naik 0,9%, dan palladium naik 0,5%. Bloomberg Dollar Spot Index tercatat datar pada Rabu dan naik 0,2% sepanjang pekan ini. - PT Solid Gold

Sumber : Newsmaker.id

Jumat, 13 Februari 2026

PT Solid Gold Berjangka | Minyak Menuju Rugi Mingguan, Risiko Iran Mereda

 

Harga Emas hari ini - Harga minyak berpotensi membukukan penurunan mingguan beruntun untuk pertama kalinya tahun ini, terseret sentimen risk-off di pasar global, kekhawatiran kelebihan pasokan minyak mentah, serta prospek pembicaraan nuklir AS–Iran yang tampaknya akan berjalan lebih panjang. West Texas Intermediate (WTI) bertahan di bawah $63/barel setelah merosot hampir 3% pada Kamis, sementara Brent berada di atas $67/barel.

Di sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi dapat berlangsung hingga sekitar sebulan, yang secara tidak langsung menurunkan peluang eskalasi militer dalam waktu dekat—dan itu berarti risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah ikut menurun. Untuk saat ini, fokus Washington disebut mengarah pada jalur diplomatik untuk membatasi ambisi nuklir Iran, sehingga “premium ketegangan” yang sebelumnya menopang harga minyak mulai terkikis.

Sementara itu, International Energy Agency (IEA) kembali menegaskan gambaran fundamental yang kurang bersahabat bagi harga: pasar 2026 diproyeksikan mengalami surplus sekitar 3,73 juta barel per hari (sekitar 3,7 juta bph), dan persediaan global tahun lalu meningkat dengan laju tercepat sejak 2020. Kombinasi proyeksi surplus + stok yang menumpuk membuat pelaku pasar lebih cepat melepas posisi ketika sentimen global memburuk.

Di perdagangan Asia, WTI pengiriman Maret tercatat sekitar $62,81/barel (stabil) pada pagi hari di Singapura, sementara Brent untuk penyelesaian April sedikit melemah 0,1% ke sekitar $67,45/barel. Jika tren pelemahan ini berlanjut, penurunan mingguan beruntun berisiko memutus rangkaian penguatan yang sempat terbentuk di awal 2026—yang sebelumnya banyak ditopang oleh episode ketegangan geopolitik. - PT Solid Gold Berjangka

Sumber: Newsmaker.id

Rabu, 11 Februari 2026

PT Solid Gold | Pasar Asia Menahan Napas Jelang Data Jobs AS

 

Harga Emas hari ini - Saham-saham Asia bergerak tipis dan bertahan dekat level tertinggi sepanjang masa pada Rabu, menjelang rilis data tenaga kerja AS yang dinilai krusial. Sentimen pasar masih ditopang data penjualan ritel AS yang melemah, karena memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga di paruh akhir tahun.

Indeks MSCI Asia Pasifik nyaris tidak berubah setelah dua hari menguat yang membawa indeks itu ke rekor baru. Namun, arah pasar tidak sepenuhnya solid setelah Wall Street terkoreksi pada Selasa, dengan investor kembali memilah risiko terutama di saham-saham teknologi.

Di pasar obligasi, kontrak berjangka Treasury AS mempertahankan penguatan setelah imbal hasil (yield) 10 tahun turun ke level terendah dalam sekitar satu bulan pada sesi sebelumnya. Aktivitas perdagangan obligasi tunai di sesi Asia juga lebih sepi karena pasar Jepang libur. Di tengah penurunan yield, emas—yang cenderung diuntungkan saat suku bunga turun—bergerak naik tipis, seiring pasar uang mulai menaikkan peluang tiga kali pemangkasan suku bunga tahun ini.

Data penjualan ritel AS yang lebih lemah dari perkiraan memberi sinyal daya dukung konsumsi terhadap ekonomi mulai melemah di akhir tahun. Situasi ini membuat pekan ini menjadi sangat menentukan: pasar menunggu laporan pekerjaan pada Rabu dan data inflasi pada Jumat untuk membaca arah suku bunga berikutnya, sementara ketidakpastian di sektor teknologi tetap membayangi akibat besarnya belanja perusahaan untuk pengembangan kecerdasan buatan.

Sejumlah pelaku pasar menilai laporan pekerjaan akan menjadi penentu utama. Proyeksi konsensus mengarah pada kenaikan payroll sekitar 65.000 pada Januari, dengan tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di 4,4%. Selain itu, akan ada revisi tahunan data ketenagakerjaan yang berpotensi menunjukkan koreksi turun pada total pekerjaan dalam setahun hingga Maret 2025, sehingga meningkatkan sensitivitas pasar terhadap hasil rilis kali ini.

Di luar data, komentar pejabat The Fed juga ikut membentuk ekspektasi. Sebagian pejabat menilai suku bunga dapat ditahan lebih lama sambil menilai data yang masuk, sementara yang lain menekankan pemangkasan tambahan akan membutuhkan pelemahan pasar tenaga kerja yang lebih nyata. Di sisi korporasi, sejumlah pihak melihat koreksi tajam di saham software pekan lalu sebagai reaksi yang berlebihan, dan menilai ekonomi AS masih punya ruang tumbuh berkat produktivitas dan dukungan terhadap laba perusahaan. - PT Solid Gold

Sumber : Newsmaker.id