Selasa, 09 Oktober 2018

Solid Gold Berjangka | Penuhi Pasokan Air Bersih di Palu, Truk Tangki PMI Beroperasi Tiap Hari



SOLID GOLD BERJANGKA -  Sulawesi Tengah Guna memenuhi pasokan air bersih, Palang Merah Indonesia terus mengirimkan armada truk tangki air serta sarana dan prasarana air bersih. Krisis air bersih di lokasi terdampak pasca gempa bumi dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah masih dirasakan warga.

Sejumlah warga korban tsunami Palu masih mengeluhkan persoalan air bersih. Hal tersebut disampaikan Kepala Divisi Penanggulangan Bencana PMI Pusat, Arifin M Hadi.

“Ketersediaan air bersih menjadi yang utama dalam kondisi darurat semacam ini. Adanya pengiriman truk rangki air bersih ini sebagai bentuk pelayanan penting PMI untukmemastikan ketersediaan air bersih dan sanitasi. Tentunya, demi keperluan sehari-hari bagi para korban dan pengungsi,” ucap Arifin dalam keterangan rilis PMI, Minggu (7/10/2018).

Sebanyak 20 unit truk tangki air dari berbagai regional PMI dikirimkan ke beberapa lokasi di Sulawesi Tengah. Truk tangki air bersih setiap hari beroperasi memasok kebutuhan pengungsi yang tersebar di beberapa titik di sejumlah lokasi terparah gempa dan tsunami Palu.

Kebutuhan air bersih menjadi prioritas utama. PMI masih fokus pada distribusi air bersih.

"Kita masih fokuskan mendistribusikan air bersih ke tenda-tenda pengungsian korban gempa bumi tsunami dan lumpur, yang melanda Kabupaten Donggala, Kota Palu, dan Kabupaten Sigi Biromaru," tambah Arifin.

Distribusi air terbagi menjadi tiga posko PMI, yaitu Posko Donggala, Posko Palu dan Posko Sigi. Posko ini yang mengatur jadwal pendistribusian air yang dilakukan setiap hari.

Jadwal distribusi air bersih juga perlu berdasarkan assesment (penilaian) terlebih dahulu dari para relawan.

PMI menggunakan sumber air dari PDAM sambil menunggu PMI membuat Pusat Air di salah satu titik di Pinggiran Kota Palu. Pusat air ini bisa memproduksi sendiri air bersih untuk keperluan mandi cuci kakus pengungsi. - SOLID GOLD BERJANGKA

sumber : Liputan6

Senin, 08 Oktober 2018

Solid Gold | Luciano Spalletti Ungkap Musuh Utama Inter Milan



SOLID GOLD JAKARTA -  Inter Milan memetik kemenangan penting 2-1 di markas SPAL dengan susah payah. Setelah pertandingan, pelatih Inter Milan, Luciano Spalletti, mengaku gembira karena timnya berhasil mengatasi tekanan.

Bertanding di Stadio Paolo Mazza, Senin (8/10/2018) dini hari WIB, Inter lebih dulu mencetak gol melalui Mauro Icardi di menit ke-14. Namun, pada menit ke-72 SPAL menyamakan skor melalui Alberto Paloschi.

Inter Milan berhasil keluar dari tekanan setelah Icardi mencetak gol keduanya sekaligus mengakhiri perlawanan SPAL dengan skor 2-1 di menit ke-78. Selepas pertandingan, Spalletti menyinggung tentang mental pemainnya.

"Para pemain bekerja sangat keras, mereka mengalami tekanan ketika SPAL mencetak gol balasan. Kadang-kadang kami mengalami kesulitan di luar area bertahan, jadi kami sering kehilangan bola," kata Spalletti, dikutip laman resmi klub.

"Akan tetapi kami berhasil keluar dari tekanan. Saya bahagia karena kami telah mengalahkan rasa berpuas diri. Ketahuilah bahwa setelah kemenangan di Liga Champions musuh utama adalah berpuas diri," ujar pelatih berkepala plontos ini.

Bagi Inter Milan, ini merupakan kemenangan kelima mereka secara beruntun di semua kompetisi. Termasuk ketika mereka mengalahkan PSV di ajang Liga Champions tengah pekan lalu.

Dengan kemenangan ini, Inter Milan sukses mengamankan posisi ketiga klasemen sementara serie A. Meski begitu, Inter Milan masih tertinggal jauh dari Juventus yang kokoh di puncak klasemen dengan 24 poin dari 8 pertandingan.

Hingga pekan ke-8, Inter Milan baru mengoleksi 16 poin. - SOLID GOLD

sumber :liputan6

Jumat, 05 Oktober 2018

Solid Berjangka | Isu Tsunami di Sumba Timur, Ini Penjelasan Polisi



SOLID BERJANGKA JAKARTA - Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Sumba Timur AKBP Victor MT Silalahi siap mengusut pelaku penyebar berita bohong atau hoaks tentang tsunami di Sumba Timur melalui media sosial.

Berita bohong tentang tsunami itu menyebabkan sebagian warga di wilayah itu mengungsi ke dataran tinggi.

"Informasinya sudah kami kantongi dan jika ada indikasi, kita akan usut," ujar Victor, Rabu (3/10/2018).

Dia mengatakan, isu tsunami yang disebarkan melalui media sosial itu sangat meresahkan masyarakat bahkan membuat masyarakat lebih memilih mengungsi dan enggan kembali ke rumah.

Untuk meredam informasi bohong itu, kata Viktor, kepolisian bersama Pemda Sumba Timur telah berkoordinasi dengan BPBD dan BMKG untuk mengeluarkan surat klarifikasi dan sebarkan ke masyarakat.

"Surat itu isinya bahwa gempa di Sumba tidak berpotensi tsunami, kita bergerak cepat jangan sampai masyarakat terus ketakutan karena berita bohong," katanya.

Dia menambahkan, saat ini warga yang mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing.

Sebelumnya Kepala Stasiun Geofisika Sumba Timur, Arief Tyastama mengatakan, hingga pukul 12.00 Wita, Selasa 2 Oktober 2018 kemarin, di Pulau Sumba telah terjadi 13 kali gempa bumi dengan kekuatan yang bervariatif.

Gempa Sumba itu, kata Arief tidak berpotensi tsunami. "Tidak berpotensi tsunami tetapi masyarakat harus tetap tenang dan waspada," kata Arief. - SOLID BERJANGKA

Sumber : liputan6

Kamis, 04 Oktober 2018

PT Solid Berjangka | Warga Timika Papua Kumpulkan Donasi untuk Korban Gempa Palu



PT SOLID BERJANGKA JAKARTA - Warga Kota Timika, Papua menggelar doa di berbagai tempat ibadah serta mengumpulkan donasi untuk membantu warga Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah yang dilanda gempa bumi dan tsunami.

Pastor Maximilianus Dora OFM selaku Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan di Timika, Senin (1/10/2018) mengatakan, umat Katolik di parokinya secara khusus mendoakan korban meninggal dalam bencana gempa Palu dan Donggala itu agar arwah mereka diterima dalam kemuliaan Tuhan. Bencana alam yang terjadi di Palu dan sekitarnya itu begitu dahsyat dan pasti banyak korban meninggal dunia. Umat Katolik Paroki Santo Stefanus Sempan Timika mendoakan agar korban meninggal diterima dalam kemuliaan Tuhan."Bagi para pengungsi yang kehilangan harta benda, tempat tinggal dan luka-luka agar diberikan kekuatan dan ketabahan untuk menghadapi cobaan berat ini," ungkap Pastor Maximilianus, seperti dikutip Antara.

Sejak Sabtu (29/9), sejumlah komunitas di Kota Timika mulai menggalang donasi dari warga untuk membantu meringankan duka warga Palu dan Donggala yang dilanda bencana alam.

Penggalangan dana bantuan bencana alam tidak saja dilakukan oleh komunitas-komunitas resmi yang berada di bawah kendali Badan Amil Zakat Kabupaten Mimika, tetapi juga oleh komunitas lain.

Koordinator penggalangan dana Baznas Mimika, Agung dari Paguyuban Keluarga Arema Mimika mengatakan sesuai rapat Baznas Mimika maka diputuskan penggalangan dana korban gempa Palu dan Donggala akan dilakukan hingga Kamis (5/10).

Penggalangan dana dilakukan pada setiap titik perempatan jalan di Kota Timika, dari rumah ke rumah warga, masjid, sekolah-sekolah, yayasan, peguyuban atau kerukunan keluarga, pasar, komunitas majelis taklim, dan pusat-pusat keramaian di Kota Timika.

Seluruh dana yang terkumpul dari berbagai komunitas dan relawan, diserahkan kepada Baznas Mimika untuk selanjutnya dikirim ke Palu guna membantu meringankan duka warga setempat.

Hingga Minggu (30/9), total dana sumbangan yang terkumpul Rp 110.526.000.

"Kami membuka pintu bagi semua warga Mimika untuk dapat memberikan bantuan dan dukungan untuk meringankan beban derita saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah yang tertimpa bencana alam," kata Agung. - PT SOLID BERJANGKA

sumber : liputan6

Rabu, 03 Oktober 2018

PT Solid Gold Berjangka | Gunung Soputan Meletus, Pasokan Listrik Masih Aman



PT SOLID GOLD BERJANGKA JAKARTA - Gunung Soputan di Minahasa, Sulawesi Utara, mengalami erupsi pada Rabu (3/10/2018) pukul 08.47 Wita. Gunung menyemburkan abu kurang lebih 4 ribu meter di atas puncak. Lalu bagaimana kondisi kelistrikan di wilayah tersebut?

Deputi Manajer Komunikasi PLN Wilayah Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (Sulutenggo), Jantje Rau, menyatakan saat ini kondisi kelistrikan di wilayah sekitar Gunung Soputan masih normal. PLN tidak memadamkan listrik di wilayah tersebut.

"Saat ini kondisi kelistrikan aman terkendali," kata Jantje, saat berbincang dengan Liputan6. di Jakarta, Rabu pekan ini.

Jantje menuturkan, tidak ada infrastruktur listrik yang rusak akibat erupsi Gunung Soputan , termasuk di wilayah Ratahan, lokasi terdekat dengan gunung tersebut.

"Tidak ada, termasuk di lokasi letusan Kabupaten Ratahan, Mitra,"‎ ujar dia.

Sebelumnya, Gunung Soputan di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, mengalami erupsi pada Rabu, 3 Oktober 2018, sekitar pukul 08.47 Wita. Tinggi kolom abu teramati mencapai 4 km di atas puncak atau sekitar 5.809 meter di atas permukaan laut.

“Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga cokelat dengan intensitas tebal condong ke arah barat dan barat laut. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 39 mm dan durasi lebih kurang enam menit,” ungkap Asep, petugas Gunung Soputan, pagi tadi.

Dia mengatakan, Gunung Soputan berada pada Status Level III atau (Siaga). Terkait itu, Asep mengatakan pihaknya mengeluarkan sejumlah rekomendasi, yakni agar masyarakat tidak beraktivitas di seluruh area di dalam radius 4 km dari puncak Gunung Soputan.

"Juga di dalam area perluasan sektoral ke arah barat-barat daya sejauh 6,5 km dari puncak yang merupakan daerah bukaan kawah untuk menghindari potensi ancaman guguran lava maupun awan panas," papar dia.

Asep mengatakan, masyarakat di sekitar Gunung Soputan dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.

"Masyarakat agar mewaspadai potensi ancaman aliran lahar yang dapat terjadi setelah terjadinya erupsi, yaitu di mana material erupsi terbawa oleh air, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng Gunung Soputan, seperti di antaranya Sungai Ranowangko, Sungai Lawian, Sungai Popang dan Londola Kelewahu," ujar Asep.

Pantauan Liputan6 di lokasi, sejauh ini belum tampak pergerakan warga yang ingin mengungsi. Namun, warga telah menyiapkan masker untuk mengantisipasi hujan abu. - PT SOLID GOLD BERJANGKA

sumber : liputan6

Selasa, 02 Oktober 2018

Solid Gold Berjangka | Geger, Warga Wonogiri Temukan Harta Karun di Pematang Sawah



SOLID GOLD BERJANGKA JAKARTA - Penemuan harta karun di pematang sawah seorang warga Dusun Bulak Kulon Wonogiri pada Agustus silam telah selesai diteliti. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa tengah mengungkap harta karun berupa ribuan koin tersebut merupakan uang yang digunakan pada masa Kerajaan Xia Barat 1032-1227 Masehi dan Kerajaan Sung/Song Utara, Tiongkok, 960-1127 Masehi.

Koin itu ditemukan saat Sugiyono hendak menanam bibit jagung di pematang. Saat sawahnya dialiri air, ada bagian pematang yang terkikis.

Di tanah yang terkikis itu terdapat bongkahan berisi koin. Berat ribuan koin itu diperkirakan mencapai 5 kg. Beberapa tahun lalu, dia juga menemukan benda yang sama di sawahnya dalam jumlah lebih banyak.

Kepala Unit Candi Sewu BPCB Jateng, Deny Wahyu Hidayat, menyampaikan koin kuno dapat diidentifikasi berdasar kondisi fisik. Koin yang ditemukan di Slogohimo itu berbahan tembaga memiliki diameter 2,3 cm-2,5 cm dan di tengah terdapat lubang berbentuk persegi.

Di salah satu sisi koin terdapat aksara atau huruf yang menunjukkan pertanggalan relatif. Secara umum koin memiliki dua ciri yang menunjukkan masa penggunaannya.

Ada koin yang bertuliskan Huang Jian Yuan Bao. Menurut Deny, koin tersebut adalah uang yang digunakan pada masa Kerajaan Xia Barat.

Dia menjelaskan Kerajaan Xia Barat pada masanya menguasai wilayah Tiongkok bagian barat laut. Saat ini wilayah tersebut meliputi Provinsi Ningxia, Gansu, Qinghai Timur, Shaannxi Utara, Xijiang Timur Laut, dan sebagian Mongolia, terutama Mongolia Selatan.

Kerajaan Xia Barat kemudian dihancurkan bangsa Mongol. Koin lainnya teridentifikasi sebagai uang pada masa Kerajaan Sung/Song Utara.

Ada dua ciri yang menunjukkan koin tersebut digunakan pada masa kerajaan tersebut, yakni koin bertuliskan Tian Sheng Yuan Bao dan Yuan You Tong Bao. Kerajaan Sung/Song merupakan salah satu dinasti sebelum Tiongkok diinvasi bangsa Mongol.

Dinasti ini menggantikan periode Lima Dinasti dan Sepuluh Negara. Dinasti Sung/Song dibagi ke dalam dua periode, yakni Song Utara dan Song Selatan.

Semasa periode Song Utara ibu kota terletak di kota Bianjing (sekarang Kaifeng) dan dinasti ini mengontrol kebanyakan daerah Tiongkok (daerah mayoritas suku Han). Kerajaan Sung/Song Utara runtuh setelah ibu kotanya jatuh ke bangsa Mongol pada 20 Maret 1127 Masehi.

"Diduga koin bisa sampai wilayah Wonogiri karena dahulu dibawa pedagang dari Tiongkok. Memang dahulu pedagang Tiongkok sampai berdagang ke pedalaman yang sekarang menjadi Wonogiri, Klaten, dan sebagainya," kata Deny.

Dia melanjutkan harta karun koin tersebut telah berusia lebih dari 50 tahun, sehingga memenuhi salah satu syarat untuk dikaji sebagai cagar budaya. Sebagian koin hasil temuan dapat dirawat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wonogiri sebagai koleksi dan sebagian lainnya dapat diserahkan kepada penemu.

"Penemunya bisa diberi kompensasi berdasar nilai tembaga, berat, nilai arkeologi, kesejarahan, dan nilai kejujuran penemu. Ada tim khusus yang menilai. Oleh karena itu, koin sebaiknya dicuci dan ditimbang," kata Deny. - SOLID GOLD BERJANGKA

sumber : liputan6

Senin, 01 Oktober 2018

Solid Gold | Pilunya Gempa Palu



SOLID GOLD JAKARTA - Belum hilang kesedihan akibat gempa yang melululantakkan Kota Lombok, Nusa Tenggara Barat, gempa dahsyat kembali mengguncang wilayah Tanah Air, Jumat 28 September 2018. Gempa magnitudo 7,4 yang diikuti tsunami dahsyat membuat sebagian wilayah Palu dan Donggala rata dengan tanah. 

Sumber Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut korban meninggal 832 orang. Korban meninggal karena tertimpa reruntuhan bangunan dan terhempas air bah tsunami.

"Jumlah korban jiwa per 30 September 2018 pukul 13.00 WIB 832 orang meninggal dunia," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Jakarta, Minggu (30/9/2018).

Menurut dia, mayoritas korban merupakan warga Palu sebanyak 821 orang. Sementara, 11 korban lainnya merupakan warga Donggala.

BNPB juga mencatat 540 orang luka berat. Mereka dirawat di sejumlah rumah sakit.

Sebanyak 16.732 jiwa lainnya mengungsi. Mereka mengungsi di 24 titik di Palu dan Donggala.

"Diperkirakan jumlah korban akan terus bertambah karena masih banyak korban yang belum teridentifikasi, korban diduga masih tertimbun bangunan runtuh dan daerahnya belum terjangkau tim SAR," ujar Sutopo.

Dia menjelaskan mendapatkan info dari PMI pusat di Donggala beberapa korban tewas tertimpa reruntuhan dari tsunami sudah diamankan dan diindentivikasi.

Dia menjelaskan hari ini korban tewas mulai dimakamkan secara masal untuk menimbulkan penyakit.

"Hari ini korban mulai dimakamkan secara massal untuk menghindari timbulnya penyakit," papar Sutopo.

Kemungkinan jumlah korban akan terus bertambah didasari kondisi di lapangan masih banyak ditemukan reruntuhan bangunan yang belum dievakuasi.

Seperti di pusat perbelanjaan terbesar di Kota Palu, Mal Tatura di Jalan Emy Saelan, juga ambruk. Diduga ada puluhan hingga seratusan orang yang terjebak dalam mal empat lantai yang dibangun 2006 itu.

Menurut salah seorang pegawai mal, para korban yang terjebak di dalam mal yang ambruk sebagian itu belum dievakuasi.

Di tempat lain, seperti Hotel Roa-Roa yang berlantai delapan dan berada di Jalan Pattimura, juga rata dengan tanah. Hotel yang memiliki 80 kamar itu terdapat 76 kamar yang terisi oleh tamu hotel yang menginap.

Menurut sejumlah orang yang ditemui di hotel yang roboh itu, banyak korban gempa yang berada dalam reruntuhan gedung hotel.

Proses evakuasi para korban di Hotel Roa-Roa masih terus berlangsung. Basarnas memperkirakan ada puluhan orang yang tertimbun dalam bangunan tersebut.

"Evakuasi korban tertimbun gempa di Hotel Roa-Roa Kota Palu terus dilakukan Tim SAR Gabungan dikoordinir Basarnas. Diperkiran terdapat 50 orang di bawah reruntuhan bangunan. Alat berat diperlukan untuk evakuasi," tulis Sutopo.

Sampai saat ini beberapa korban bencana gempa masih mengungsi, di antaranya ke perbukitan di Donggala Kodi, Sulawesi Tengah.

Pengungsi gempa di kawasan ini membutuhkan makanan dan kebutuhan pokok lainnya.

"Kita di sini butuh makanan atau mie instan, hingga hari ini belum ada bantuan karena mungkin pemerintah masih fokus untuk penanganan di kota Palu yang banyak korban jiwa," ujar salah seorang pengungsi, Arif Pandian, Minggu (30/9/2018).

Ia mengungkapkan, di perbukitan tempat ia mengungsi, ada sekitar 1.000 orang yang menempati tempat itu.

"Selain makanan, di sini juga banyak anak-anak yang butuh susu dan pampers. Anak saya baru berumur satu tahun dan terus menangis karena tidak ada susu dan belum ada toko yang buka," ucapnya dikutip dari Antara.

Arif mengatakan, jika listrik masih padam total, namun jaringan telekomunikasi sudah bisa digunakan walaupun terkadang masih sulit mendapat sinyal.

"Di sini kita tinggal di tenda, dan beralaskan karpet dan juga dus bekas, saat ini bahkan hujan mulai turun," kata dia, lagi.

Ia berharap segera datang bantuan gempa agar ia bersama keluarga dan korban lainnya dapat segera memperoleh barang yang dibutuhkan.

Gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah rupanya tidak hanya terjadi di Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Ada dua kabupaten lagi di Sulteng yang juga terdampak gempa.

"Bukan hanya Kota Palu dan Kabupaten Donggala, tapi juga Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parigi Moutong. Semuanya di Sulawesi Tengah," ujar Sutopo.

Namun hingga saat ini, baru Kota Palu yang dapat diakses komunikasinya. Akses ke tiga kabupaten terdampak lainnya masih sangat sulit. Bahkan BNPB belum mengetahui secara pasti bagaimana kondisi di sana.

"Kabupaten Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong belum ada laporan secara terus menerus dan komunikasi masih lumpuh, listrik masih padam," katanya.

Sutopo menuturkan, pihaknya belum mengetahui secara persis sejauh mana dampak gempa dan tsunami di tiga kabupaten tersebut. Termasuk penanganan terhadap masyarakat yang menjadi korban.

"Bapak presiden juga telah berusaha untuk kontak dengan Gubernur Sulawesi Tengah ternyata juga mengalami kendala yang sama," ucap Sutopo.

Gempa bumi dan tsunami di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat 28 September 2018 telah memakan korban jiwa ratusan orang. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan sejumlah faktor penyebab banyaknya korban jiwa pada musibah tersebut. Salah satunya tidak ada sirine deteksi dini tsunami yang berbunyi.

Saat gempa terjadi, Sutopo menambahkan, masih banyak masyarakat yang beraktivitas di sekitar pantai. Lantaran tidak ada sirine atau penanda potensi terjadinya tsunami, masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa dan tidak segera mencari tempat yang lebih aman.

"Masyarakat banyak yang tidak tahu ancamannya sehingga masih melakukan aktivitas di pantai. Akhirnya banyak korban akibat tsunami," ujar Sutopo dalam akun Twitter yang dikutip Liputan6.com, Minggu (30/9/2018).

Menurut Sutopo, mereka yang selamat dari terjangan tsunami rata-rata karena tengah berada di tempat-tempat yang lebih tinggi.

"Terbatasnya peringatan dini, pengetahuan dan perilaku antisipasi tsunami, shelter dan tata ruang menyebabkan masih banyak korban akibat tsunami," ucapnya.

Sutopo menambahkan,  Indonesia butuh alat deteksi tsunami atau BUOY Tsunami Early Warning System (TEWS). Sebab Sutopo menjelaskan Indonesia adalah bagian dari wilayah rawan tsunami serta menimbulkan banyak korban.

"Kalau menurut saya memerlukan sangat memerlukan wilayah Indonesia itu yang rawan tsunami kejadian tsunami sering terjadi dan menimbulkan banyak korban," kata Sutopo.

Dia menjelaskan hingga saat ini pihak pemerintah belum memfasilitasi alat tersebut. Ada beberapa hal kata dia yang jadi hambatan. Salah satunya yaitu terkait pendanaan.

"Kalau kita melihat ya pendanaan apalagi turun setiap tahun. Dulu sempat hampir mendekati 2 Triliun tahun ini hanya 700. Nah ini jadi kendala, disatu sisi ancaman bencana meningkat masyarakat yang terpapar teresiko semakin meningkat kejadian bencana meningkat," papar Sutopo.

Sutopo juga menjelaskan sampai saat ini anggaran penanggulangan bencana setiap tahun di BNPB mengalami penurunan. Sehingga kata dia berpengaruh dengan upaya navigasi kepada masyrakat.

"Bagaimana kita bersosialisasi. Bagaiamana melakukan pengurangan resiko bencana. Memasang perinyatan dini dan menjadi terbatas karena anggarannya memang terus berkurang," kata Sutopo. - SOLID GOLD

sumber : liputan6