Rabu, 16 Oktober 2019

PT SOLID GOLD | Sistem Belajar "Full Day School"

PT SOLID GOLD - Apakah Sistem Belajar "Full Day School" Baik untuk Anak Sekolah?


PT SOLID GOLD JAKARTA -
Sistem jam sekolah full day school beberapa waktu lalu marak diperbincangkan. Ada pihak yang mendukung karena melihat keuntungan dan manfaatnya untuk anak, tapi ada pula ada juga yang menentang. Yuk, telaah lebih lanjut pro dan kontranya di sini!

Apa itu full day school?


Full day school adalah sistem KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) yang dicanangkan oleh Kemendikbud RI pada tahun 2017 silam. Dari sisi arti harfiahnya, full day school berarti sekolah satu hari penuh. Definisi inilah yang masih sering disalahpahami oleh khalayak ramai.

Meski “pinjam nama” full day, kegiatan belajar mengajar dari sistem ini tidak berlangsung nonstop dari pagi hingga malam. Pada rilis Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 dijelaskan bahwa full day school artinya hari sekolah harus berlangsung 8 jam per hari dari Senin sampai Jumat mulai pukul 06.45-15.30 WIB, dengan durasi istirahat setiap dua jam sekali. Durasi KBM ini juga sesuai dengan kurikulum tahun 2013.

Meski demikian, menurut Ari Santoso, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM) Kemendikbud, sistem sekolah seharian tidak diimplementasikan merata di seluruh sekolah. Pemerintah membebaskan untuk setiap sekolah memulai sendiri penerapan program KBM ini.

Sekolah juga bisa melakukan sistem sekolah full day school ini secara bertahap, tidak harus langsung. Tidak lupa juga harus disesuaikan dengan kemampuan, fasilitas, dan sumber daya manusia di masing-masing sekolah.

Apa tujuannya?


Sistem full day school dibuat untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan cara menunjang proses KBM secara lebih menyeluruh serta menjangkau setiap aspek dari perkembangan akademis siswa.

Meningat siswa akan menghabiskan waktu yang lebih banyak di sekolah, mereka diharapkan tidak hanya akan mendapatkan proporsi pendalaman teori yang lebih banyak tapi juga lewat aplikasi ilmu secara nyata.

Pemerintah mengharapkan bahwa aktivitas sekolah seharian penuh seperti ini dapat menghadirkan cara belajar yang menyenangkan, interaktif, dan praktis. Sekolah bukan hanya tempat tatap muka sambil duduk belajar saja.

Jadi selain kegiatan belajar mengajar di kelas, peserta didik juga akan mendapatkan waktu kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mendukung keterampilan emosional, psikologis, serta sosialnya. Contohnya, ekskul mengaji (jika di sekolah islam), pramuka, palang merah, atau jenis ekskul lainnya terkait minat seni dan olahraga.

Pemerintah juga menganjurkan kegiatan belajar mengajar diisi dengan kegiatan menyenangkan lain yang berhubungan dengan pendidikan. Misalnya seperti karyawisata ke museum untuk belajar budaya bangsa, menghadiri pertunjukan seni budaya, sampai menonton atau terlibat dalam kompetisi sportif.

Selain itu, sistem sekolah satu hari penuh dicanangkan untuk mencegah dan menetralisir kemungkinan siswa terlibat dalam kegiatan-kegiatan nonakademis yang menjerumus pada hal negatif.

Manfaat bersekolah pakai sistem full day school


1. Siswa memahami materi pelajaran lebih dalam
Belajar satu hari penuh artinya setiap materi ajaran akan dikupas secara lebih mendetil dan menyeluruh.

Jika yang tadinya satu mata pelajaran hanya berlangsung 1-1,5 jam dalam sehari, full day school memungkinkan adanya penambahan jam pelajaran sampai 2,5 jam sehari.

Hal ini dirasa Kemendikbud akan menguntungkan bagi peserta didik karena mereka bisa mendapatkan waktu yang lebih banyak untuk memahami materi tersebut. Terutama pada mata pelajaran eksak seperti matematika, fisika, kimia, atau pun bahasa asing.

Para guru juga bisa punya waktu lebih untuk membuka sesi tanya jawab dengan siswanya demi memastikan semua betul-betul memahami materi pelajaran.

2. Orangtua tidak perlu cemas
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, salah satu tujuan sekolah satu hari penuh adalah untuk menjamin anak-anak terhindar dari kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang berbau negatif. Terlebih tidak semua orangtua punya waktu untuk mengawasi anaknya sehabis pulang sekolah.

Setelah jam sekolah usai, kemungkinan anak akan tetap menghabiskan waktunya untuk ikut ekskul di lingkungan sekolah dan juga tetap di bawah pengawasan guru sehingga ortu tak perlu cemas lagi anaknya keluyuran sampai malam.

3. Anak bisa berakhir pekan dengan orangtua
Saat anak dan orangtua sama-sama sibuk belajar dan bekerja, di akhir pekan bakal menjadi hari yang ditunggu-tunggu.

Dengan full day school, jadwal KBM dipadatkan untuk 5 hari saja (Senin-Jumat) sehingga sekolah tidak perlu lagi mewajibkan siswa masuk sekolah pada hari Sabtu.

Menurut Ari Santoso, anak bisa bisa menjadikan hari Sabtu dan Minggu sebagai hari khusus bersama keluarga.

Tapi, ini konsekuensinya sistem full day school


1. Anak tidak makan dan tidur teratur
Di luar belajar, makan dan tidur adalah kebutuhan utama anak yang tidak bisa diganggu gugat.

Tidur memperkuat proses otak menyimpan informasi baru sebagai memori jangka panjang sehingga semua materi yang mereka pelajari di sekolah tadi dapat mudah mereka ingat kembali di waktu akan datang. Sementara itu, makan menyediakan energi bagi otak untuk bekerja menyerap, mengolah, dan menyimpan informasi.

Ironisnya, sistem sekolah seharian penuh dirasa menomorsekiankan dua kebutuhan utama anak ini. Waktu masuk sekolah yang kepagian (umumnya mulai 06.30 pagi) riskan membuat anak mau tidak mau jadi melewatkan sarapan, atau hanya makan seadanya. Akhirnya mereka jadi tidak memiliki cadangan energi yang cukup untuk memproses materi pelajaran di sekolah. Terlebih, tidak semua sekolah memiliki fasilitas katering makan siang atau kantin dengan pilihan makanan padat gizi dan bervariasi sehingga anak cenderung tetap jajan sembarangan.

Di sisi lain, sekolah sampai sore artinya siswa jadi kehilangan waktu berharga untuk istirahat dan tidur. Tidak sedikit pula siswa sekolah yang lanjut mengikuti les atau bimbel di tempat lain setelah pulang sekolah sampai malam hari. Anak pun jadi tidak punya waktu untuk tidur malam yang cukup, padahal esok harinya harus kembali bangun pagi-pagi buta untuk berangkat sekolah.

2. Anak lebih gampang sakit

Jadwal tidur dan makan yang berantakan berbahaya untuk mental dan fisik anak ke depannya. Anak sekolah yang kurang tidur terbukti cenderung tidak menonjol dalam bidang akademis. Mereka juga lebih mungkin untuk tertidur di kelas selama pelajaran berlangsung.

Kurang makan dan tidur juga meningkatkan risiko anak lebih gampang sakit maag atau flu sehingga tidak bisa masuk sekolah, sampai risiko masalah kesehatan serius seperti kolesterol tinggi dan obesitas.

3. Anak rentan stress
Capek belajar sama halnya dengan capek bekerja bagi orang dewasa. Seluruh tenaga habis dikerahkan untuk bisa memahami “serbuan” informasi baru tanpa henti. Anak juga dipaksa untuk menjalani rutinitas panjang ditambah beban PR dan ulangan tiap beberapa bulan, sampai adanya ancaman tidak bisa naik kelas apabila mereka tidak mendapatkan nilai bagus.

Terlebih anak juga jadi mendapatkan waktu istirahat dan bermain yang minim karena diharuskan mengikuti berbagai kegiatan tambahan di luar sekolah, termasuk ekskul dan les bimbel.

Hal ini lambat laun akan membuat otak kewalahan dan sangat kelelahan sehingga membuat anak rentan stres. Stres buruk dampaknya untuk anak. Sudah banyak studi ilmiah yang melaporkan bahwa anak sekolah yang tidur kurang dari enam jam per malam dilaporkan tiga kali lebih mungkin untuk menderita depresi.

Gangguan psikologis seperti ini dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko masalah perilaku anak di sekolah, seperti membolos dan coba-coba narkoba atau miras, sampai pemikiran atau upaya bunuh diri.

4. Belum jaminan prestasi akademis pasti meningkat
Gagasan full day school berpatokan dari teori yang menyatakan bahwa waktu belajar yang paling optimal buat anak adalah 3-4 jam sehari dalam suasana formal dan 7-8 jam sehari dalam suasana informal.

Meski begitu, data lapangan yang ada justru menyatakan sebaliknya. Durasi KBM di sekolah-sekolah Indonesia termasuk yang paling panjang di dunia, bahkan setelah dibandingkan dengan negara lain yang terobsesi dengan pendidikan seperti Singapura atau Jepang. Di Singapura misalnya, lama durasi 1 mata pelajaran rata-rata hanya 45 menit per sesi sementara di Indonesia bisa sampai 90-120 menit.

Kenyataannya, durasi sekolah yang lama belum tentu mencerminkan hasil akademis yang sejalan lurus sama baiknya. Nilai rata-rata yang ditunjukkan pelajar Indonesia setelah belajar nonstop 8 jam lebih  tetap lebih rendah daripada pelajar Singapura yang notabene hanya belajar 5 jam.
PT SOLID GOLD

Sumber : Hellosehat


Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar